Selamat Datang, Dinas Energi Sumber Daya Mineral Prov. Sulawesi Selatan

Berita / Posting

Energi Terbarukan Dari Kawasan Gersang di Provinsi Sulawesi Selatan

Energi Terbarukan  Dari Kawasan Gersang di Provinsi Sulawesi  Selatan

*) Muhammad Rijal

 

Ada banyak destinasi wisata yang dapat Anda kunjungi jika berada di sekitar Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan. Salah satunya, Anda dapat berkunjung ke kebun angin raksasa Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB)   yang berada di Dusun Ganrang Batu, Desa Kayu Loe Barat, Kecamatan Turatea, Kabupaten Jeneponto.

Di tengah sawah yang terhampar luas, dengan berderet kincir angin raksasa,  berada di PLTB ini bak terasa di negeri kincir angin Belanda. Tak salah jika banyak pengendara yang melintas, menyempatkan diri  mampir sejenak hanya untuk berswafoto dengan latar persawahaan dan kincir angin raksasa yang aksesnya mudah dijangkau baik kendaraan roda dua maupun kendaraan roda empat.

Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) tersebut diberi nama PLTB Tolo dan merupakan PLTB kedua berskala besar di Indonesia setelah PLTB yang ada di Sidrap dengan Kapasitas 72 MW. Dan saya bangga sekali karena  kebetulan kedua daerah ini adalah tempat saya dibesarkan karena Bapak saya berasal dari kabupaten Sidrap dan ibu saya dari Kabupaten Jeneponto. Dulunya orang mengenal daerah jeneponto karena  minuman ballo sejenis arak,   Ballo ini  dari sadapan nira pohon lontar atau yang sering disebut oleh masyarakat Jeneponto dengan sebutan pohon Tala', Dan  kuliner khas Jeneponto yang bernama Coto Kuda dan Gantala' Jarang racikan Jeneponto. "Jarang" dalam bahasa indonesia berarti kuda. Rasa dari Coto berbahan dasar daging kuda ini hampir sama dengan rasa coto dengan bahan dasar daging sapi atau kerbau. Bagi anda yang tidak terbiasa menikmatinya mungkin tidak akan berselera untuk mencicipinya, tapi bagi saya coto kuda adalah hidangan yang nikmat dan mengundang selera, konon coto kuda ini dahulu adalah makanan yang khusus dihidangkan untuk para Karaeng (sebutan untuk seorang Raja) dan keluarga bangsawan saja. Setiap ada acara-acara keluarga atau pesta hidangan ini selalu ada, karena menurut orang-orang di Jeneponto, tidak sah atau ada sesuatu yang terasa kurang jika tidak menyuguhkan yang namanya Coto Jarang dan Gantala'na kepada tamu yang datang.

PLTB ini memiliki baling-baling (blade) berukuran panjang 63 meter, lebarnya pun hingga 5 meter dengan berat hingga 80 ton Dengan tinggi 133 meter . dipasang 20 turbin angin dengan masing-masing kapasitas daya 3,6 Megawatt (MW).

Model turbin yang dipasang di PLTB ini memakai jenis Siemens DD On-Shore 3,6 WTG dimana transformator Siemens dipasang dengan kapasitas masing-masing 45 MVA. PLTB Tolo beroperasi karena adanya dukungan kecepatan angin sebesar 6 m/s yang merupakan potensi angin cukup besar untuk dikembangkan secara komersial di Jeneponto dan tentunya harapan pemerintah khususnya pemerintah daerah  untuk usaha penyediaan tenaga listrik yang disediakan pembangkit swasta  (IPP) yang existing  melakukan ekspansi untuk  pembangunan  Pembangkit Listrik Tenaga Bayu untuk memenuhi ketersedian tenaga listrik  di wilayah kerja PT. PLN  Sulselrabar.

Sejak awal tahun 2015 telah beroperasi pembangkit  tenaga listrik konvesional yang merupakan pembangkit tenaga listrik swasta (IPP)  yaitu  PLTU Bosowa Energi  yang terletak di Desa Punagaya, Kecamatan Bangkala, Kabupaten Jeneponto, dengan kapasitas daya terpasang 2 x 125 MW , pembangkit ini  telah berkontribusi menyalurkan tenaga  listrik di Wilayah Sulawesi Selatan  dan PLTB Tolo  dengan kapasitas  daya terpasang  72 MW yang sudah beroperasi secara komersial tanggal 14 Mei 2019  yang dapat melistriki  kurang lebih 80.000 rumah tangga dengan asumsi pelanggan rumah tangga dengan daya terpasang  900 VA. Dengan adanya kedua  pembangkit tenaga listrik tersbet  maka Kabupaten Jeneponto  mempunyai ikon baru sebagai  Industri pembangkit tenaga listrik di Sulawesi Selatan. Sebelumnya juga pernah dikembangkan energy baru terbarukan dengan  menggunakan tenaga surya  di Pulau Libukang  atau sekarang di kenal  dengan nama Pulau Harapan yang terletak di Kelurahan  Bontorannu Kecamatan Bangkala  Kabupaten sebanyak 70 unit Solar Home Sistem (SHS)   dengan kapasitas 50 watt peak  untuk 70 rumah tangga yang merupakan bantuan kementerian ESDM melalui PT. PLN  Wilayah Sulselrabar dan pada awal tahun 2020  untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik yang beroperasi 24 jam PT. PLN telah membangun  jaringan udara tegangan rendah ke pulau libukang dengan panjang kurang lebih 1 kms dengan jumlah pelanggan rumah tangga sebanyak 54 rumah tangga  dari 98 rumah tangga.

Saat ini kondisi sistem kelistrikan PT. PLN  wilayah Sulselrabar  memiliki daya mampu sebesar 1.656 MW dengan beban puncak 1.169 MW dan cadangan daya sebesar 487  MW (29 %). Sementara rasio elektrifikasi Provinsi Sulawesi Selatan hingga akhir tahun 2019 telah mencapai 98,25%. (sumber PLN  19/12/2019)

Potensi dan Pemanfaatan Energi Terbarukan

Potensi tenaga air sebesar 94,3 GW  dan yang termanfaatkan 5,97 GW, Potensi Surya sebesar 207,8 GW dan yang termanfaatkan 0,14 GW,  Potensi Panas Bumi  sebesar 23,9 GW  dan yang termanfaatkan 2,13 GW, Potensi Bio Energi  sebesar 32,6 GW  dan yang termanfaatkan 1,88  GW sedangkan  Potensi Bayu sebesar 60,6 GW  dan yang termanfaatkan 0,15 GW. Bauran energy  primer EBT dalam energy mix nasional  9,15 % pada tahun 2019 dan kapasitasn pembangkit EBT 10,3 GW atau 12,4 % dari kapasitas total pembangkit pada tahun 2019  sebesar 69,1 GW  (sumber Ditjen EBTKE Kementerian ESDM).

Kendala Dalam Pemanfaatan Energi Terbarukan (ET)

Ditinjau dari aspek teknologi, hambatan utamanya adalah sering ditemukan rendahnya kualitas teknologi ET sehingga banyak menimbulkan kegagalan. Selain itu masih ditemukan ketidak sesuaian antara teknologi ET dengan kondisi sosial, geografi dan ekonomi masyarakat,  Harga teknologi ET yang belum kompetitif dibanding energy konvensional juga salah satu penghambat laju perkembangan pemanfaatan ET, Energi Terbarukan pada umumnya membutuhkan investasi awal yang tinggi, Kurangnya data dan infrastruktur penunjang dan Sumber daya energi terbarukan pada Umumnya bersifat intermittent (PLN 2009).

Untuk mewujudkan bauran energi primer energi baru dan terbarukan (EBT) sebesar 23% pada tahun 2025. Diharapkan Pemerintah  terus berupaya mendorong pengembangan industri ini semakin kompetitif  dengan mengoptimalkan  pemanfaatan energy terbarukan  yang bersumber dari air  yaitu PLTA, PLTM dan PLTMH,  Bayu (PLTB), Surya (PLTS),  disamping itu pemerintah daerah seyogya sudah menetapkan  Rencana Umum Energi Daerah (RUED) dan Rencana Umum Ketenagalistrikan  Daerah (RUKD) sebagaimana telah diamanatkan dalam Undang – Undang di Bidang Energi dan Ketenagalistrikan sebagai informasi data potensi energy, pengembangan penyediaan tenaga listrik dan penyaluran tenaga listrik yg meliputi  Transmis dan distribusi di wilayah Suawesi  khususnya Sulawesi selatan.