Jurnal

Facebook

Twitter

Google Plus

YouTube

EKSPLORASI UMUM BAHAN GALIAN LEUSIT DI KABUPATEN BARRU

Oleh : Ryandi Januar Pratama, ST

Staf / Fungsional Umum Bidang Geologi dan SDM Dinas ESDM Prov Sulsel

 

PENDAHULUAN

Mineral leusit merupakan bahan galian industri yang termasuk dalam bahan galian bukan logam, dapat digunakan sebagai bahan baku untuk pembuatan pupuk pertanian setelah dilakukan pengolahan. Keterdapatan mineral leusit di daerah  Gattareng, Kecamatan Pujananting, Kabupaten Barru diketahui sejak Direktorat Geologi Departemen Pertambangan dan Energi melakukan pemetaan geologi regional Lembar Pangkajene dan Watampone Sulawesi (Rab Sukamto, 1982). Hasil pemetaan itu menunjukkan adanya sebaran basal yang merupakan anggota Formasi Vulkanik Camba (Tmca) di sekitar daerah Gattareng. 

Kabupaten Barru memiliki potensi bahan galian mineral leusit yang cukup luas terutama menyebar di daerah Gattareng Kecamatan Pujananting. Infrastruktur jalan dan pelabuhan sudah cukup memadai, begitupula potensi pasar domestik dan ekspor yang cukup besar. 

Gambar 1. Peta Tunjuk Daerah Eksplorasi Bahan Galian Leusit

Dilatarbelakangi oleh hasil penelitian tersebut di atas, maka Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Sulawesi Selatan melalui Bidang Geologi dan Sumberdaya Mineral, melakukan kegiatan penyelidikan umum bahan galian mineral leusit di daerah Gattareng, Kabupaten Barru. Hasilnya diharapkan dapat menyediakan data dasar mengenai potensi bahan galian mineral leusit di daerah tersebut, serta kemungkinan penggunaannya dan tata cara penambangan, sebagai bahan baku pembuatan pupuk pertanian dan bahan baku untuk penggunaan lainnya. Diharapkan pula hasil penelitian ini sebagai bahan pertimbangan dalam kegiatan penyelidikan selanjutnya.

GEOLOGI 

Daerah Gattareng berdasarkan keadaan bentang alamnya dapat dibagi atas 4 satuan morfologi, yaitu satuan morfologi pegunungan, satuan morfologi perbukitan, satuan morfologi bergelombang, dan satuan morfologi kars. Sungai utama yang mengalir di Daerah Gattareng adalah Sungai Gattareng yang bersumber dari anak – anak sungai yang berada di sebelah timur daerah penelitian. Beberapa mataair permanen dijumpai pada batugamping Formasi Tonasa  sebagian diturap oleh penduduk setempat untuk kebutuhan air bersih dan pertanian.

Susunan stratigrafi Daerah Gattareng didasarkan atas ciri litologi yang dikompilasikan dengan hasil pemetaan geologi yang dilakukan oleh Rab Sukamto (1982), stratigrafi daerah penelitian dikelompokkan dalam formasi batuan. 

Batuan Ultrabasa (Ub) yang tersusun dari Peridotit yang terserpentinkan, terkersikkan diperkirakan berumur Trias, munculnya akibat tektonik pada akhir Kapur. Batuan Malihan (s) sebagian besar tersusun dari sekis dan sedikit gneis. Batuan Melange (m) adalah batuan campur aduk secara tektonik. Umurnya diperkirakan Jura. Formasi Balangbaru (Kb) merupakan Sedimen type flysh; tertindih tidak selaras dengan batuan Formasi Mallawa dan Batuan Gunungapi Terpropilitkan, dan menindih tidak selaras batuan ultrabasa dan sekis.

Formasi Mallawa (Tem) terdiri dari Batupasir, konglomerat, batulanau, batulempung, dan napal, dengan sisipan atau lensa batubara dan lempung. Berdasarkan kandungan Moluska dan Foramiminifera Formasi ini diperkirakan berumur Eosen.

Formasi Tonasa (Temt) terdiri dari  Batugamping koral pejal, sebagian terhablurkan, berwarna putih dan kelabu muda; batugamping bioklastika dan kalkarenit. Umurnya dari Eosen Awal  sampai Miosen Tengah dan lingkungan neritik dangkal-dalam dan laguna. Formasi Camba (Tmc) merupakan Batuan sedimen laut berselingan dengan batuan gunung api; Formasi ini berumur Miosen Tengah sampai Miosen Akhir dan lingkungan neritik. 

Terobosan diorit – dasit (d) , terutama berupa stok dan sebagian berupa retas, kebanyakan bertekstur porfir, berwarna kelabu muda sampai kelabu. Diorit yang tersingkap di daerah Pujananting menerobos batupasir Formasi Balangbaru dan batuan Ultramafik; terobosan yang terjadi di sekitar Camming dan Maraung sebagian terdiri dari granodiorit porfir, dengan banyak fenokris berupa biotit dan amfibol, dan menerobos batugamping Formasi Tonasa dan batuan Formasi Camba. 

Struktur geologi daerah penelitian terdiri atas perlipatan, sesar, dan kekar. Perlipatan secara umum berarah utara-selatan sampai baratlaut-tenggara, Sesar secara umum berarah utara-selatan dan baratdaya-timurlaut. Sesar normal dan sesar geser terjadi oleh karena adanya gaya mendatar yang berarah barat timur pada kala Miosen Tengah sampai Pliosen Atas. Kekar berarah umum baratlaut-tenggara sampai timurlaut-baratdaya.

Gambar 2. Peta Geologi daerah Gattareng dan sekitarnya (Rab. Sukamto, dkk, 1982) 

HASIL PENYELIDIKAN

Daerah eksplorasi merupakan rangkaian daerah perbukitan vulkanik Gattareng, berada pada ketinggian (700 – 1200) mdpl,  tekstur  topografi  kasar dan relief topografi ekstrim, wilayahnya merupakan kawasan Areal Penggunaan Lain (APL) dan Hutan Produksi Terbatas (HPT) dengan vegetasi pepohonanan dan semak-belukar.

Daerah eksplorasi mineral leusit secara stratigrafi termasuk dalam kelompok batuan Formasi Vulkanik Camba. Struktur geologi daerah ini adalah sesar normal dan sesar geser terjadi oleh karena adanya gaya mendatar yang berarah barat timur pada kala Miosen Tengah sampai Pliosen Atas. Terbentuknya batuan vulkanik yang mengandung mineral leusit di daerah eksplorasi berhubungan dengan proses vulkanisme dan magmatisme.

Batuan vulkanik yang mengandung mineral leusit di daerah eksplorasi dijumpai sebagai anggota Formasi Vulkanik Camba. Kenampakan megaskopis batuannya : berwarna abu-abu gelap, kompak dengan tekstur yang kasar,  mengandung mineral Leusit  (60 – 75) %, Hornblende (15 – 20) %, Massa Dasar (5 -12) %. Berat jenis (2,4 - 2,5) m3/ton.

Kualitas endapan mineral leusit daerah eksplorasi dapat dilihat  pada tabel  berikut ini.

Tabel 1. Hasil Analisa Kimia Contoh Basal Leusit di Daerah Eksplorasi.

Berdasarkan hasil analisa kimia pada tabel tersebut di atas dengan kadar K2O  (4,82 – 7,02) % dan kadar SiO2 lebih besar 50 %, sehingga batuan vulkanik di daerah eksplorasi merupakan basal leusit yang mengandung mineral leusit. Sifat fisik batuannya yang agak kompak namun dapat digali secara manual, pengolahan dapat dilakukan dengan menggunakan palu atau mesin pemecah batu dan ayakan. Berdasarkan sifat fisik batuannya sehingga batuan basal leusit di daerah eksplorasi dapat diproduksi untuk pembuatan pupuk pertanian khususnya pupuk majemuk.

Sumberdaya endapan bahan galian mineral leusit di daerah eksplorasi, sebagai berikut :

a. Sumberdaya terukur tambang (Qa) adalah 1.158.750 ton.  

b. Sumberdaya terunjuk (Qb) adalah 45.609.375 ton.

c. Sumberdaya keseluruhan (Qt) adalah 46.768.125 ton

Berdasarkan sifat fisik dari tanah penutup dan keadaan endapan mineral leusit, maka cara penambangan yang cocok diterapkan di wilayah penyelidikan adalah tambang terbuka, menggunakan metode kuari dengan 1 hingga 3 jenjang (side hill benching). Tinggi jenjang disesuaikan dengan alat atau tidak lebih dari 5 m. Hasil perhitungan diketahui sumberdaya terukur mineral leusit yang layak tambang daerah eksplorasi jika dikonversi menjadi cadangan terukur adalah 1.158.750 ton. Sedangkan hasil produksi pengolahan mineral leusit dari sumberdaya terukurnya (cadangan terukur) adalah = 1.100.812 ton. Bila produksi mineral leusit yang direncanakan  adalah 40.000 ton/tahun, maka umur produksi pengolahan dari hasil tambang = 27.52 tahun. Namum demikian umur tambang akan disesuaikan dengan perizinan.

Foto 1. a. Kenampakan lapangan singkapan batuan vulkanik (Basal leusit); b. Bongkahan Basal leusit hasil pembuatan sumur uji

Untuk penambangan sebaiknya dimulai dari daerah yang tinggi (puncak), tujuannya untuk mempermudah tempat kedudukan penambangan berikutnya. Penggalian dibagi dalam jalur-jalur dan seksi-seksi, agar penimbunan lapisan penutup lebih mudah. Penambangan dapat dilakukan pada musim kemarau dan musim hujan, mengingat batuannya terkonsilidasi baik dan lereng cukup stabil sampai pada kemiringan 60 derajat.

Penambangan mineral leusit dapat dilakukan dengan 2 cara yang mungkin yaitu :          

• Penambangan secara semi mekanis.

• Penambangan secara mekanis.

Gambar 3. Peta Lokasi Prospek Bahan Galian  Leusit Blok Gattareng

 

KESIMPULAN

Batuan vulkanik yang mengandung mineral leusit di daerah eksplorasi dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan pupuk pertanian. Batuan vulkaniknya terdiri dari basal leusit, berwarna abu-abu bila lapuk soilnya berwarna abuabu kehitaman. Batuannya kompak dan dapat digali secara manual, tekstur sedang sampai kasar,  batuannya terkekarkan. 

Sumberdaya endapan bahan galian mineral leusit di daerah eksplorasi terdiri dari sumberdaya terukur = 1.158.750 ton, sumberdaya terunjuk = 45.609.375 ton, sehingga sumberdaya keseluruhan adalah 46.768.125 ton. Hasil produksi pengolahan mineral leusit dari sumberdaya terukur dengan recovery 95 % adalah 1.100.812 ton.

Volume lapisan penutup yang perlu dikupas  = 950.000 m3, sehingga  ratio lapisan penutup = 0,82 m3/ton. Hasil perhitungan diketahui sumberdaya terukur pengolahan mineral leusit adalah 1.100.812 ton dan produksi direncanakan adalah  40.000 ton/tahun, maka umur tambang atau pengolahan adalah 27.52 tahun.                 

Berdasarkan keadaan endapan maka penambangan yang disarankan adalah penambangan terbuka dengan metode quarry menggunakan 1 hingga 2 jenjang dengan ketinggian jenjang tidak lebih dari 5 meter. Penambangan sebaiknya dimulai dari tempat yang tinggi. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah kemajuan tambang. Pembongkaran basal leusit dibagi dalam jalur-jalur dan seksi - seksi, agar penimbunan tanah penutup dapat diatur dengan baik. Penambangan seyogianya tetap memperhatikan prosedur kerja seperti dalam usulan penambangan.

Untuk tinjauan tenaga kerja, produksi, dan kualitas sebaiknya penambangan dilakukan secara semi mekanis. Pembuatan jaringan jalan di front penambangan perlu dipikirkan untuk memudahkan pengangkutan ke tempat penimbunan dengan memperhatikan kelandaian lereng, belokan, jalan yang terpendek dan bila mungkin meningkatkan jalan yang telah ada.  

DAFTAR PUSTAKA

BATEMAN, A.M., 1961, Economic Mineral Deposits, Modern Asia Edition, New York, Tokyo, Second Edition.

BEMMELEN ,R.W. VAN, 1949 The Geology of Indonesia, Vol. I A, General Geology, Vol. II, Economic Geology, The Hague, Martinus Nijhoff.

DARWIS FALAH dkk, 1993, Geologi Terpadu Daerah Kabupaten Barru Propinsi Sulawesi Selatan, Kanwil Departemen Pertambangan dan Energi Propinsi Sulawesi Selatan.

 MACHALI MUCHSIN, 1999, Klasifikasi Sumberdaya dan Cadangan, Pusat Pengembangan Tenaga Pertambangan, Bandung.

SUKAMTO, RAB, 1982, Geologi Lembar Pangkajene dan Watampone, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Departemen Pertambangan dan Energi, Bandung.

SUKANDARRUMIDI, 2004, Bahan Galian Industri, Gajah Mada University Press, Yogyakarta.

INFORMASI SEKRETARIAT

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Prev Next

PERINGATAN DINI

PERINGATAN DINI

“PERINGATAN DINI”( EARLY WARNING )PETA PRAKIRAAN WILAYAHPOTENSI TERJADI GERAKAN TANAH / TANAH LONGSORDI PROVINSI SULAWESI SELATAN Dalam rangka upaya mitigasi gerakan tanah dan membangun kesiapsiagaan pemerintah daerah dan masyarakat untuk menghadapi...

Read more

Izin Operasi Tambang Pengemplang Pajak Akan Dicabut

Izin Operasi Tambang Pengemplang Pajak Akan Dicabut

Uang Negara ratusan juta rupiah bias diselamatkan jika perusahaan taat bayar pajak Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Luwu, Amang Usman, mengatakan pihaknya sudah mendata sejumlah perusahaan pertambangan yang dinilai membandel...

Read more

Tiga Blok Migas Belum diminati

Tiga Blok Migas Belum diminati

Makassar, Fajar--Diyakini punya potensi besar, namun hingga kini belum terjamah. Blok migas menunggu investor.  Sulsel memiliki tiga potensi blok minyak dan gas (Migas) yang belum dikelolah. Ketiga Blok migas itu...

Read more

Tanpa Infrastruktur Jalan, Dewi YL Tutup Tambang

Tanpa Infrastruktur Jalan, Dewi YL Tutup Tambang

Sikap tegas ditunjukkan politikus Hanura di DPR asal Sulsel, Dewi Yasin Limpo terhadap beberapa perusahaan tambang yang belum berkontribusi maksimal bagi daerah. Terutama bagi perusahaan yang belum membuat infrastruktur jalan...

Read more

Punya Mineral Langka, Pemprov Sulsel Cari Investor

Punya Mineral Langka, Pemprov Sulsel Cari Investor

Pemerintah Provinsi Sulsel mengindikasikan adanya kandungan mineral langka, Skandium di sejumlah kabupaten di Sulsel. Namun, hingga saat ini belum ada penelitian dari pemerintah daerah maupun investor mengenai besaran cadangan mengenai logam...

Read more

JURNAL

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Prev Next

GEOLOGI LINGKUNGAN

GEOLOGI LINGKUNGAN

OLEH : MUH. JAFAR 1. PENDAHULUAN Geologi Lingkungan merupakan cabang ilmu geologi yang mempelajari interaksi antara alam yang disebut lingkungan geologis (geological environment) dengan aktivitas manusia yang bersifat timbal balik. Geologi Lingkungan...

Read more

EKSPLORASI UMUM BAHAN GALIAN LEUSIT

EKSPLORASI UMUM BAHAN GALIAN LEUSIT

EKSPLORASI UMUM BAHAN GALIAN LEUSIT DI KABUPATEN BARRU Oleh : Ryandi Januar Pratama, ST Staf / Fungsional Umum Bidang Geologi dan SDM Dinas ESDM Prov Sulsel   PENDAHULUAN Mineral leusit merupakan bahan galian industri yang...

Read more

PENANGGULANGAN BENCANA GERAKAN TANAH BERBASIS MASYARA…

 PENANGGULANGAN  BENCANA GERAKAN TANAH BERBASIS MASYARAKAT

oleh : Slamet Nuhung Penyelidik Bumi Madya   1. PENDAHULUAN   Gerakan tanah merupakan peristiwa alam yang sering terjadi di berbagai wilayah di Indonesia, biasanya dimusin hujan. Dari sebagian kejadian gerakan tanah...

Read more

MINERAL DAN ENERGI DALAM PUSARAN KEMARITIMAN TELUK BONE

MINERAL DAN ENERGI DALAM PUSARAN KEMARITIMAN TELUK BONE

  Oleh M.Djafar (Penyelidik Bumi Dinas ESDM Sul-Sel)   Indonesia sebagai Negara maritim sudah dikenal sejak dahulu; semboyan Jalasveva Jayamahe (di laut kita jaya) merupakan simbol untuk menunjukkan bagaimana kejayaan dan kemakmuran serta kekayaan...

Read more

MENGENAL POTENSI PANAS BUMI KANANDEDE KECAMATAN LIMBON…

MENGENAL POTENSI PANAS BUMI KANANDEDE  KECAMATAN LIMBONG KAB.LUWU UTARA

OLEHNATANIEL CJ.TAPPI*) I.PENDAHULUAN Kebutuhan pada sektor energi hingga saat ini menjadi salah satu tulang punggung dalam upaya  dapat menopang laju pembangunan yang semakin genjar dilaksanakan baik oleh pemerintah maupun elemen masyarakat lain...

Read more

 DINAS ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL

Jalan : A. P. Pettarani Telp. (0411) 873045 – 873624 – 874467 Fax (0411) 873524 (Hunting) 875543

MAKASSAR Kode Pos 90222