Bidang Geologi & Sumberdaya Mineral

Facebook

Twitter

Google Plus

YouTube

MANAGEMEN DAN KONSERVASI AIRTANAH

 

Oleh :

Slamet Nuhung  *)

 

 

 

ABSTRAK

Air merupakan zat yang sangat esensial bagi mahluk hidup, karena tidak ada kehidupan di bumi ini tanpa air.  Kebutuhan air akan terus bertambah  dari waktu ke waktu, sejalan dengan kian bertambahnya populasi manusia yang menuntut terpenuhinya kebutuhan akan air, pertumbuhan sosio-ekonomi, industri, pertanian dan sebagainya yang terus dipacu menyebabkan kebutuhan sumber air terus meningkat, maka eksploitasi air akan terus berlangsung sepanjang kehidupan, sementara volume air di bumi ini sesungguhnya tetap / tidak berubah, berputar mengikuti hukum daur hidrologi.

Konversi lahan dan eksploitasi airtanah besar-besaran sebagai konsekuensi pembangunan, berdampak pada penurunan kuantitas cadangan airtanah berikut persoalan penurunan kualitas airtanah sebagai akibat pencemaran polutan manusia, zat-zat kimia, limbah dan intrusi air asin,  Ini menjadi permasalahan degradasi lingkungan yang sangat serius.

Konsep untuk menjamin ketersediaan sumber daya air dan distribusi untuk menjaga stabilitas sumber daya dan siklus air, perlu sistem managemen airtanah untuk pemenuhan kebutuhan yang berkecukupan secara berkelanjutan dan menjamin  kelestarian (konservasi) kemanfaatannya bagi kehidupan.

Kata Kunci : Air sumber kehidupan, degradasi lingkungan dan managemen airtanah.

PENDAHULUAN

Pernahkah terlintas dalam benak kita seberapa banyak air yang kita komsumsi setiap hari ?, Ternyata setiap orang menghabiskan rata-rata 144 liter air per hari untuk keperluan mandi, mencuci, memasak, minum dan beribadah (survey tahun 2006, Direktorat Pengembangan Air Minum, Departemen PU), atau pernahkah  terpikir andaikan air tidak ada meskipun hanya sehari ?.  Menurut sebuah penelitian, manusia bisa bertahan hidup sampai dua minggu tanpa makanan,  tetapi manusia hanya dapat bertahan hidup dua hari tanpa meminum air.

Mengapa bumi ini layak dihuni, salah satu jawabannya karena anugerah Allah menyediakan air yang melimpah di atas permukaan bumi. Air merupakan komponen abiotik terbanyak yang bisa ditemukan, sekitar dua per tiga dari permukaan bumi tertutupi air, sisanya merupakan daratan, sekilas tidak ada yang perlu dikhawatirkan atas ketersediaan air di bumi kita ini, Akan tetapi perlu diingat bahwa tidak semua air yang ada dapat dimanfaatkan, sebagian besar tidak layak dikonsumsi manusia.

Mari kita telusuri gambarannya, volume air di permukaan bumi sekitar 1,457 milyar km3. Dari jumlah air ini, 93,93 % berupa air asin dilautan;  1,65 % dalam bentuk glasier dan es beku di kutub ; 4,39 % merupakan airtanah ; 0,005 % air dalam kelembaban tanah (soil water) ; 0,001 % berada di atmosfer ; dan hanya 0,0001 % air yang mengalir di sungai-sungai dan danau.  Jika dilihat dari komposisi air tersebut maka air yang dapat dimanfaatkan manusia sebanyak 4,4121 % yang terdiri atas 4,39 % airtanah, 0,0161% air permukaan termasuk danau dan sungai, dan 0,006 % air di udara.

Apa yang dapat kita tarik terhadap keberadaan air di bumi kita, ternyata hanya sedikit sekali air yang dapat mendukung kehidupan manusia secara langsung. Jika secara kuantitas jumlah air tetap, di sisi lain jumlah Kebutuhan air akan terus bertambah  dari waktu ke waktu, sejalan dengan kian bertambahnya populasi manusia yang menuntut terpenuhinya kebutuhan akan air, pertumbuhan sosio ekonomi yang terus dipacu telah menyebabkan kebutuhan sumber air meningkat, baik secara kuantitas maupun kualitas disamping tingkat kebutuhan air yang cukup tinggi untuk berbagai sektor lainnya seperti pertanian, perkebunan, perikanan, industri, pariwisata, jasa dsb.  Eksploitasi airtanah yang terus terjadi sebagai salah satu akibat banyaknya permintaan akan kebutuhan air, sementara  volume air di bumi ini sesungguhnya tetap maka akan menimbulkan persoalan ketika melebihi ketersediaannya dan pada akhirnya menimbulkan kelangkaan air bersih.

Persoalan yang banyak kita temukan saat ini adalah terletak pada segi kuantitas dan kualitas airtanah yang terus menurun sebagai konsekuensi pembangunan yang sangat pesat. Konversi lahan dari kawasan lindung menjadi kawasan budidaya, lahan terbuka menjadi kawasan terbangun (infrastruktur perkotaan, pemukiman dsb), akibatnya aliran air hujan sangat sedikit meresap kedalam tanah,  sementara disatu sisi eksploitasi dengan pemompaan airtanah besar-besaran, akibatnya berdampak pada penurunan cadangan airtanah.  Konsekuensi lain adalah sifat air yang sangat mudah terkontaminasi melalui aktivitas manusia yang menghasilkan polutan dan pencemaran zat-zat kimia, limbah dan intrusi air laut yang dapat mencemari air. 

Jika hal ini terus dibiarkan maka fenomena yang kerap dialami manusia dewasa ini adalah banjir dimusim hujan dan kekeringan ketika kemarau, untuk jangka panjang krisis air bersih akan melanda berbagai tempat dibelahan bumi ini.  Sebelum kondisi tersebut terjadi semakin parah, sistem managemen dan konservasi sumber daya air secara nyata diperlukan dalam rangka menjaga dan meningkatkan kuantitas, kualitas dan kontinuitas ketersediaan air bagi makhluk hidup.

Konsep untuk menjamin ketersediaan sumber daya air dan distribusi untuk menjaga stabilitas sumber daya dan siklus air adalah upaya pengelolaan disamping aspek pemanfaatannya, dan yang tidak kalah pentingnya adalah aspek pelestarian dan aspek perlindungan, untuk pemenuhan kebutuhan yang berkecukupan secara berkelanjutan dan menjamin kelestarian (konservasi) kemanfaatannya bagi kehidupan.

Oleh sebab itu, perlindungan air dalam hubungannya dengan perencanaan kawasan, terutama perencanaan tata guna lahan berdasar pada aspek-aspek geologi lingkungan adalah suatu keharusan.

KONSEP TEORITIS SUMBERDAYA AIRTANAH

Sumberdaya air terdiri atas air permukaan dan airtanah, Air pemukaan adalah air yang berada di permukaan tanah dan dapat dengan mudah dilihat oleh mata kita, Lapisan air yang menutupi permukaan bumi membentuk samudera, laut, rawa, danau, sungai, kali, empang, tumpukan es, awan, uap dan lain-lain. Sedangkan airtanah adalah air yang berada di bawah permukaan bumi yang tersimpan dalam rekahan-rekahan dan pori-pori tanah dan batuan di kulit bumi. Keberadaan airtanah terbagi dua, yang pertama adalah airtanah dangkal yaitu airtanah yang letaknya dekat permukaan bumi diatas lapisan kedap air, dapat diambil dengan cara menggali tanah (membuat sumur gali), yang kedua adalah airtanah dalam yaitu airtanah yang letaknya jauh dari permukaan bumi yang tersimpan dalam dua lapisan kedap air. Karena letaknya yang dalam, airtanah ini memiliki tekanan yang kuat. Apabila terjadi celah tembus, aitanah akan menyembur keluar yang dinamakan mataair artesis.

Mengapa air tidak pernah habis atau berkurang sejak bumi terbentuk milyaran tahun yang lalu.  Meskipun sampai sekarang, masih menjadi perdebatan tentang volume air yang ada di bumi. Sebagian kalangan mengatakan bahwa volume air di bumi tetap namun sebagian lagi mengatakan bahwa volume air tidak tetap.

Menurut hasil penelitian David Gallo direktur dari proyek Woods Hole Oceanographic Institution (WHOI)  bahwa total volume air di bumi akan tetap dan tidak akan habis, setidaknya hingga jutaan tahun ke depan.  Air laut tidak pernah berkurang meskipun dia harus mengisi palung Mariana (palung terdalam di Bumi) sedalam 11 kilometer. Dan air laut pun tidak pernah berkurang walaupun harus mengisi 165.385.450 km2 lautan pasifik (hampir separuh luas permukaan bumi).

Pada dasarnya tidak habis-habisnya air di bumi disebabkan karena adanya siklus air, sehingga volume air dI bumi tetap. Yang menjadi persoalan utama justru perubahan air bukan pada kuantitasnya, melainkan kualitasnya.

Berikut bahasan utama dalam tulisan ini terkait dengan keberadaan airtanah, permasalahannya dan upaya perlindungannya.

Airtanah memiliki siklus dalam proses pembentukannya, salah satu komponen dalam daur air yang berlangsung di alam, mengikuti suatu lingkaran siklik aliran yang dinamakan “siklus hidrologi”. Peristiwa perpindahan melalui proses penguapan (evaporation) yang menyerap kandungan pelarut (H2O) saja, dan transpirasi (transpitration) adalah penguapan air yang terjadi pada tanaman. Setelah air naik ke atmosfer dan berubah menjadi uap-uap air dan mengalami penggabungan (kondensasi) membentuk gumpalan awan. Selanjutnya proses presipitasi (precipitation) yaitu jatuh ke bumi dalam bentuk hujan atau salju, sebagian terserap oleh tanaman, sebagian membentuk aliran permukaan (surface stream flow) dan bagian lainnya mengalami proses peresapan ( infiltrasi) ke dalam tanah, bergerak dalam ruang-ruang antara butir tanah / rekahan batuan (Perkolasi) membentuk air bawah tanah (groundwater) pada lapisan batuan pembawa air  yang disebut lapisan akifer.

Sebagian air tersimpan sebagai airtanah dan akan keluar ke permukaan tanah berupa limpasan permukaan (surface runoff), aliran antara (interflow) dan limpasan airtanah (groundwater runoff). Pada lapisan jenuh airtanah, pergerakan airtanah akan bergerak ke segala arah, dengan gaya kapiler.

Di bawah permukaan tanah perjalanan airtanah menempati 2 lapisan yaitu pada lapisan permeable dan lapisan impermeable. Lapisan permeable adalah lapisan tanah / batu yang mudah ditembus atau dilalui oleh airtanah seperti pasir, kerikil, batugamping rekahan. Lapisan impermeable adalah jenis lapisan kedap air yaitu suatu tanah atau batuan yang sulit dilalui atau meluluskan airtanah atau disebut aquifug, seperti lapisan lempung, serpih, tufa halus, silt, batuan beku / batuan kristalin, batuan metamorf kompak.  

Secara alamiah proses pembentukan airtanah berlangsung pada suatu wadah yang disebut cekungan airtanah (groundwater basin), tempat berlangsungnya prose pengimbuhan, pengaliran dan pelepasan airtanah. Airtanah yang mengalir menuju kepelepasannya kemudian muncul kepermukaan tanah membentuk mataair.

PERMASALAHAN SUMBER DAYA AIRTANAH

Permasalahan sumberdaya airtanah, mulai terasa pada beberapa dekade terakhir ini ketika tuntutan kebutuhan meningkat atas pemanfaatan air  yang dipengaruhi laju pembangunan yang semakin pesat dan lonjakan jumlah penduduk, sementara di sisi lain tuntutan terhadap kelestarian lingkungan, dimana kelangkaan (scarcity) sumber air baku, pada akhirnya mengubah paradigma secara radikal tentang pengelolaan sumberdaya air.  Paradigma tersebut bergaung secara global sejak International Conference on Water and the Environment di Dublin, Irlandia,Tahun 1992, dan United Nations Conference on Environment and Development di Rio de Janeiro, Brazil, serta yang terakhir World Water Forum 2000 di The Hague, Netherland, menetapkan visi air dunia “Making Water Everybody’s Business”.

Permasalahan sumberdaya airtanah mencakup semua unsur yang berkaitan dan berpengaruh terhadap kondisi sumberdaya air dan unsur yang dipengaruhinya.  Hal ini menjadi tantangan pengelolaan saat ini dan masa yang akan datang yang bersifat antisipatif dan bertujuan menurunkan atau menekan resiko kerugian yang ditimbulkannya dengan cara mengelola tingkat kerentanan kawasan terhadap lima jenis bahaya, yaitu: (a) kelangkaan air baik dari segi kuantitas maupun kualitas (b) banjir (c) erosi dan sedimentasi, (d) tanah longsor, dan (e) intrusi air laut.

Beberapa permasalahan yang muncul dari pemanfaatan sumberdaya airtanah :

1.  Penurunan Cadangan Airtanah

Kemajuan pembangunan dewasa ini penyebab utama penurunan cadangan airtanah seperti pada aktivitas konversi lahan dari kawasan lindung menjad kawasan budidaya, kawasan terbuka yang berfungsi sebagai zona resapan (recharge zone) menjadi kawasan terbangun.  Dampak berkurangnya daerah resapan air yang berfungsi untuk menahan retensi aliran air hujan dan menjadi bagian dari daerah tangkapan air yang disebut ‘Catchment Area’, berpengaruh pada sedikitnya retensi aliran air hujan yang dapat masuk kedalam tanah, sebaliknya sebagian besar air hujan yang tidak terserap kedalam tanah menjadi air limpasan dipermukaan (surface runoff) dan sebagian mengalir ke sungai. Pada saat curah hujan intensitas ekstrim maka terjadi luapan sungai dan volume limpasan dipermukaan daratan akan cukup besar berakibat besarnya  frekuensi erosi dan genangan banjir.

Berkurangnya daerah-daerah resapan air mengganggu ilfiltrasi air hujan masuk kedalam tanah, Sebagai subsitem dari siklus hidrologi airtanah, maka terjadi pergeseran pada siklus hidrologinya. Pergeseran tersebut dapat terjadi dalam bentuk peningkatan dan pengurangan pada salah satu subsistemnya. Terganggunya subsistem air tanah di suatu daerah akan mengakibatkan terganggunya kesetimbangan neraca air, selanjutnya berdampak pada menurunnya kuantitas airtanah di daerah tersebut, yang pada akhirnya akan mengakibatkan penurunan kualitasnya.

Perlindungan daerah resapan memerlukan sejumlah tindakan berdasarkan pada dua tujuan utama yaitu :

    • Memastikan bahwa lahan yang sesuai untuk recharge area harus terus dipertahankan dan tidak diubah oleh infrastruktur perkotaan, seperti bangunan, jalan dsb.
    • Mencegah polutan atau zat-zat pencemar memasuki airtanah.

2. Dampak Eksploitasi Dan Pencemaran Airtanah

Eksploitasi airtanah yang hanya menekankan asas kemanfaatan, tetapi kurang memberi perhatian kepada asas keseimbangan dan kelestarian akan memberikan pengaruh negatif terhadap sumberdaya tersebut, berupa degradasi kuantitas maupun pencemaran kualitas airtanah.

Dampak negatif eksploitasi airtanah secara berlebihan terhadap airtanah itu sendiri dan lingkungan sekitarnya adalah :

    • Penurunan muka airtanah.
      Pengambilan airtanah yang intensif dan tidak terkontrol terutama pengambilan airtanah pada cekungan-cekungan airtanah. Pada beberapa kasus industri atau hotel yang mememilki sumur produksi sampai lebih 20 sumur dengan pengambilan lebih dari 8000 m3 perhari, akibatnya di pusat-pusat pengambilan airtanah terjadi penurunan muka air tanah (MAT) secara drastis dan secara meluas terjadi kemerosotan kuantitas airtanah yang akan berakibat pada kerusakan sistem dan lingkungan airtanah.  Hasil perekaman sumur pantau terhadap muka airtanah beberapa kota sepeti Jakarta, Bandung-Soreang, Semarang-Demak, Denpasar-Tabanan, menunjukkan muka airtanah didaerah tersebut  terus menurun.
    • Pencemaran airtanah.
      Sifat air yang sangat mudah terkontaminasi dengan melalui pencemaran yang diakibatkan oleh zat-zat kimia, limbah atau polutan yang berasal dari manusia akan merubah komposisi air yang sehat. Masuknya partikel zat / organisme yang dapat mempengaruhi kandungan air yang semula baik menjadi menurun dan bahkan air tidak dapat dipergunakan lagi sesuai peruntukannya dan pada gilirannya kerusakan lingkungan berdampak pada  berkurangnya sumber air baku yang dapat dikonsumsi manusia dan tentu saja oleh segala makhluk hidup yang lain
      Sedangkan di daerah dataran pantai  akibat pengambilan airtanah yang tidak terkendali akan menyebabkan terjadinya intrusi air laut karena pergerakan air laut akan mengisi kekosongan pori-pori tanah dan batuan peninggalan airtanah.  Berikut rembesan air laut akan mencemari sumur-sumur penduduk, dan merusak bangunan bawah tanah dan dapat merubah kualitas hidup manusia dan mahluk hidup lainnya.
    • Amblesan tanah (land subsidence).
      Pengambilan airtanah yang berlebihan pada lapisan akifer tertekan (confined aquifers), berakibat pada turunnya daya dukung tanah oleh penurunan karakteristik kekuatan mekanik tanahnya. Airtanah yang tersimpan dalam pori-pori lapisan penutup akifer akan terperas keluar yang menyebabkan penyusutan lapisan penutup tersebut, refleksinya adalah amblesan tanah di permukaan.
      Penurunan volume cadangan airtanah oleh aktivitas pemompaan besar-besaran melebihi volume pengisian, akan menggangu sistem sirkulasi hidrologi,  menimbulkan persoalan pada jumlah keberadaan sumberdaya airtanah. Artinya adalah pengurasan airtanah tanpa diimbangi dengan pengisian yang setimbang pada akhirnya menurunkan kuantitas airtanah, menjadi permasalahan sampai hari ini diberbagai kota. Contoh yang dapAt kita lihat amblesan tanah di wilayah Jakarta (jalan Tol Cengkareng).

TANTANGAN PENGELOLAAN SUMBERDAYA AIRTANAH

Beberapa tantangan yang dihadapi Indonesia terkait pengelolaan sumberdaya airtanah saat ini dan kedepan :

  1. Millenium Development Goals
    Dalam pergaulan masyarakat internasional, Indonesia terikat pada kesepakatan Millenium Development Goals dan Johannesburg Summit 2002 yang mentargetkan agar jumlah penduduk yang belum mendapat layanan air bersih dan sanitasi pada tahun 2000, berkurang hingga separuh pada tahun 2015. Sementara itu, tingkat layanan terhadap kebutuhan air bersih dan sanitasi pada saat ini masih rendah, terutama bagi masyarakat yang tinggal di daerah kumuh perkotaan, perdesaan, pulau-pulau kecil dan kawasan pantai, merupakan tantangan dalam pemenuhan kebutuhan tersebut.
    Pemenuhan hak dasar yang menjamin hak setiap orang untuk mendapatkan air dari airtanah di daerah yang airtanahnya memungkinkan bagi kebutuhan pokok sehari-hari guna memenuhi kebutuhan kehidupan yang sehat, bersih dan produktif. Menjamin terselenggaranya pemanfaatan airtanah yang adil bagi masyarakat.
  2. Pengembangan dan penerapan Teknologi Airtanah
    Ilmu pengetahuan dan teknologi pengelolaan sumberdaya airtanah yang terus dikembangkan oleh negara lain merupakan tantangan bagi Indonesia agar tidak mengalami ketertinggalan. Penelitian, pengembangan ilmu pengetahuan dan penerapan teknologi serta peningkatan sumber daya manusia sangat diperlukan, agar Indonesia lebih mampu dan mandiri dalam pengelolaan sumberdaya airtanahnya, kemampuan membangun satu sistem informasi dan jaringan informasi airtanah yang terpadu didasarkan pada data keairtanahan yang andal, tepat, akurat, dan berkesinambungan mencakup seluruh wilayah Indonesia.  Kerja sama pengelolaan sumberdaya air antar negara diperlukan mengingat Indonesia memiliki beberapa wilayah sungai yang berbatasan dengan negara lain.
  3. Dampak perubahan iklim global.
    Dampak perubahan iklim global yang terasa dalam bentuk musim hujan yang semakin pendek dengan puncak curah hujan yang lebih tinggi, dan musim kemarau yang panjang terutama di selatan ekuator, akan memperbesar tingkat kerentanan kawasan terhadap bencana banjir dan kekeringan.
    Fenomena perubahan iklim global dan variasi cuaca, dipandang oleh kebanyakan orang sebagai tantangan yang mengerikan. Yang terpenting bagi Indonesia adalah bagaimana menyikapi fenomena tersebut agar tetap bisa survive dan sekaligus memetik kemanfaatannya, menempatkan sebagai tantangan yang perlu diantisipasi juga menjadi peluang dengan memanfaatkan sisi-sisi positifnya melalui berbagai program dan upaya yang bersifat adaptasi, tentu itu lebih bijak.
  4. Pengelolaan sumberdaya air terpadu
    Pengelolaan terpadu antara airtanah dan air permukaan yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari ekosistem dan berinteraksi dengan air permukaan. Konsep pengelolan air secara total memadukan konsep groundwater basin dan river basin. Pendekatan pengelolaan airtanah dengan mendasarkan konsep regional, intermediate dan local  (artificial grondwater flow system) guna memecahkan permasalahan kuantitas dan kualitas airtanah pada setiap recharge area ataupun discharge area..

KONSERVASI AIRTANAH

Ketika kita sadar betapa air sebagai salah satu unsur yang penting dan kebutuhan dasar manusia dan mahluk hidup lainnya dalam kehidupan  maka keberadaannya harus dijaga kelestariannya.

Konservasi airtanah adalah upaya melindungi dan memelihara keberadaan, kondisi dan lingkungan airtanah guna mempertahankan kelestarian atau kesinambungan ketersediaan dalam kuantitas dan kualitas, serta daya dukung yang memadai demi kelangsungan fungsi dan kemanfaatannya untuk memenuhi kebutuhan makhluk hidup, baik untuk generasi sekarang maupun pada generasi yang akan datang.
Pada prinsipnya konservasi air adalah penggunaan air hujan yang jatuh ke tanah seefisien mungkin, dan mengatur waktu aliran agar tidak terjadi banjir yang merusak pada musim hujan dan terdapat cukup air pada waktu musim kemarau. Konsep konservasi air yang baik yaitu menyimpan air dikala berlebihan, menggunakannya sesedikit mungkin untuk keperluan tertentu yang produktif.

Untuk mendukung konservasi airtanah maka diselenggarakan pemantauan airtanah. Obyek pemantauan airtanah antara lain pemantauan kedudukan muka air, debit aliran, jumlah pengambilan airtanah, kuantitas, kualitas dan lingkungan keberadaan airtanah. 
Pada dasarnya konservasi airtanah tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan volume airtanah tetapi juga meningkatkan konservasi air permukaan. Efisiensi penggunaannya sekaligus mengurangi run off air permukaan yang diharapkan dapat meresap ke tanah dan mengisi lapisan-lapisan akifer menjadi cadangan airtanah.

Penggunaan airtanah yang terkendali, salah satu upaya nyata yang harus dilaksanakan dalam rangka menjaga kelestarian airtanah secara terpadu.

Pengendalian pemanfaatan dan menjaga kelestarian airtanah dilakukan dengan :

1.    Upaya pengendalian meningkatkan cadangan airtanah.

  • Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS). Pengelolaan DAS adalah memelihara daerah tangkapan air (Catman Area) dan menjaga kelangsungan fungsi resapan air. Seluruh wilayah DAS mulai dari hulu sebagai bagian utama zona konservasi imbuhan (pencadangan airtanah), sampai ke hilir sebagai daerah penyaluran air, adalah suatu kesatuan ekosistem. Sebagai suatu kesatuan sistem maka pengelolaannya  harus dilakukan secara utuh dan terpadu, oleh karena perubahan / kerusakan yang terjadi di suatu bagian akan mempengaruhi bagian lain dalam wilayah DAS tersebut.
  • Pengendalian alih fungsi lahan dan penetapan zona imbuhan airtanah. Pemanfaatan lahan perkotaan sebagai lahan untuk daerah resapan dibuat minimal 30 % dari luas keseluruhan wilayah,  Pengendalian ini bertujuan mencegah penurunan fungsi resapan air dari pembangunan fisik perkotaan,
    Penetapan daerah imbuhan airtanah sejatinya hasilnya dapat diakses oleh masyarakat dan sebagai salah satu dasar penyusunan atau penyempurnaan rencana tata ruang wilayah paling lambat 2 (dua) tahun setelah Keputusan Presiden tentang Cekungan Air Tanah ditetapkan.
  • Penghematan airtanah. Kecenderungan sikap manusia dalam menggunakan air melebihi kebutuhan, demikian halnya pemakaian airtanah (dengan sumur-sumur dalam) yang dilakukan oleh industri, pertanian, dan sebagainya, dalam praktek seringkali memakai airtanah tidak efektif . Penghematan penggunaan airtanah dapat dilakukan dan dimulai di lingkungan rumah tangga dengan merubah perilaku pemborosan penggunaan airtanah, dan pengendalian penggunaan airtanah pada industri, perhotelan dan usaha bisnis lainnya dilakukan pemasangan “water meter” yang berfungsi mengontrol dan mengukur volume pemakaian airtanah, dibarengi dengan regulasi pajak pemakaian airtanah dan tindakan tegas bagi pelanggarnya.

2.    Upaya pengendalian dari aspek teknis.

  • Teknik pemanenan air (water harvesting).  Suatu teknologi konservasi sederhana pengisiulangan air tanah secara alami di daerah perkotaan yang padat penduduk, dapat dilakukan dengan mengkombinasikan antara menampung air hujan kedalam bak pemanenan dan meresapkan air limpahannya kedalam tanah melalui sumur resapan (Sures).  Untuk daerah pedesaan membangun lebih banyak waduk, embung, dan menambah ruang terbuka hijau.
    Keuntungan Teknik Pemanenan air dengan sumur resapan  pada daerah padat, dan pembangunan waduk serta ruang terbuka hijau didaerah pedesan adalah : meningkatkan kapasitas infiltrasi air hujan yang masuk kedalam tanah,  (menambah volume cadangan airtanah)  dan mengurangi jumlah limpasan air permukaan sehingga dapat mencegah / meminimalisasi banjir dan genangan air.
  • Pengendalian pemboran airtanah, dilakukan dengan : Penentuan lokasi pemompaan, Pengaturan kedalaman penyadapan, Peruntukan airtanah untuk berbagai keperluan, dan Pembatasan debit pemompaan. agar penurunan muka airtanah dapat dibatasi pada kedudukan yang aman dan dampak lingkungannya.

KEBIJAKAN PENGELOLAAN AIRTANAH DI INDONESIA

Kebijakan merupakan konstruksi pikiran yang dirancang berdasarkan konseptualisasi dan spesifikasi suatu kondisi baik yang telah terjadi maupun yang diprediksi terjadi di masa mendatang.  Perumusan masalah sumberdaya air merupakan aspek yang paling penting dalam analisis kebijakan, tetapi hal yang satu ini ternyata sulit dilakukan karena seringkali kompleks dan memerlukan dukungan data dan informasi yang akurat.

Pengaturan airtanah di Indonesia sudah dilakukan sejak sebelum kemerdekaan (tahun1945), zaman kemerdekaan, era Orde Baru (UU No.11 Tahun 1974), sampai pada era Otonomi Daerah saat ini.

Beberapa peraturan yang mendasari kebijakan pengelolaan sumberdaya air di Indonesia saat ini diantaranya adalah Undang-Undang Dasar 1945, UU Nomor 7 Tahun 2004 Tentang Sumberdaya Air, PP Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sumber Daya Air, PP Nomor 43 Tahun 2008 Tentang Air Tanah, PP Nomor 37 Tahun 2012 Tentang Pengelolaan Daerah Aliran Sungai, Perpres Nomor 33 Tahun 2011 Tentang Kebijakan Nasional Pengelolaan Sumber Daya Air,  Permen ESDM Nomor 15 Tahun 2012 Tentang Penghematan Penggunaan Air Tanah.

Dasar pemikiran kebijakan pengelolaan airtanah di Indonesia :

  • Airtanah merupakan kebutuhan pokok bagi semua makhluk hidup. Oleh karena itu, dalam pengelolaannya harus dapat menjamin pemenuhan kebutuhan yang berkecukupan secara berkelanjutan.
  • Keberadaan airtanah mempunyai fungsi sosial, lingkungan dan ekonomi. Oleh karena itu, pengelolaannya harus dapat menjamin kelestarian dan ketersediannya secara berkesinambungan.
  • Airtanah merupakan sumberdaya air yang keberadaannya terbatas dan kerusakannya sulit dipulihkan.

1.    Visi dan misi kebijakan  pengelolaan sumberdaya air :

  • Visi sumber daya air : dikelola secara menyeluruh, terpadu dan berwawasan lingkungan hidup dengan tujuan mewujudkan kemanfaatan sumber daya air yang berkelanjutan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.
  • Misi sumber daya air : melakukan konservasi sumber daya air berkelanjutan, pendayagunaan sumber daya air  yang adil bagi semua kebutuhan. (penatagunaan, penyediaan, penggunaan, pengembangan dan pengusahaan). Pengendalian dan penanggulangan daya rusak air, Pemberdayaan dan peningkatan peran masyarakat, dunia usaha, dan pemerintah. Dan terakhir peningkatan ketersediaan dan keterbukaan data dan informasi sumberdaya air.

2.    Pendayagunaan sumberdaya air adalah pemanfaatan air tanah secara optimal dan berkelanjutan yang dilakukan mencakup :

  • Inventarisasi potensi airtanah,
  • Perencanaan pemanfaatan airtanah,
  • Perizinan, pengendalian, pemantaun, pengawasan dan evaluasi,
  • Pendayagunaan sumberdaya air dan
  • Pengendalian daya rusak air. Dalam rangka menjamin terwujudnya keseimbangan pemanfaatan airtanah dan konservasi airtanah secara optimal.

3.    Konsepsi pengelolaan airtanah  :

  • Cekungah Airtanah (CAT, bahwa Pengelolaan sumberdaya airtanah harus didasarkan pada konsep pengelolaan cekungan air bawah tanah (Groundwater Basin Management).  Pengelolaan airtanah didasarkan pada konsep Cekungan Air Tanah (CAT) yaitu suatu wilayah yang dibatasi oleh batas hidrogeologis tempat semua kejadian hidrogeologis seperti proses pengimbuhan, pengaliran dan pelepasan air tanah berlangsung.  CAT meliputi CAT lintas Negara, CAT lintas Provinsi, CAT lintas Kabupaten/Kota dan CAT dalam satu Kabupaten/Kota.  CAT ditetapkan dengan Keputusan Presiden atas usul Menteri,  Hal tersebut menjadi dasar penyusunan kebijakan pengelolaan dan pemanfaatan airtanah, yang dalam pelaksanaannya membutuhkan peran serta dan komitmen yang kuat dari semua pihak terkait.
  • Konsep Konservasi sumber daya air dan distribusi untuk menjaga stabilitas sumber daya dan siklus air, serta pemikiran administratif (perizinan dan pemberian hak). Konservasi mendapat penekanan untuk kelangsungan sumberdaya air yang telah mengalami pengrusakan pada hutan-hutan di daerah hulu (pegunungan) dengan usaha-usaha pencegahan secara konkrit.

4.    Konservasi yang efektif biasanya meliputi suatu paket langkah pengendalian yang terdiri dari :

  • Perlindungan dan pelestarian sumber air, terdiri atas pemeliharaan kelangsungan fungsi resapan air dan daerah tangkapan air ; pengendalian pemanfaatan sumber air, pengaturan daerah sempadan sumber air dan  rehabilitasi hutan dan lahan.
  • Pengawetan air, yang berarti menyimpan air yang berlebihan dimusim hujan, penghematan air dan pengendalian penggunaan air tanah.
  • Pengelolaan kualitas air, dengan cara memperbaiki kualitas air pada sumber air antara lain dilakukan melalui upaya aerasi pada sumber air dan prasarana sumberdaya air.
  • Pengendalian Pencemaran Air, dengan cara mencegah masuknya pencemaran air pada sumber air dan prasarana sumberdaya air.
  • Kampanye untuk mendorong konsumen lebih sadar terhadap akibat penggunaan yang boros

5.    Konservasi harus menumbuhkan semangat kepada seluruh masyarakat, swasta dan pemerintah dengan komitmen yang nyata dan dilaksanakan secara :

  • Terpadu (multi sektor), mencakup kepentingan lintas sektoral dan lintas wilayah.
  • Menyeluruh (hulu-hilir, kualitas-kuantitas, instream-offstream),
  • Berkelanjutan (antar generasi), menjaga dan memanfaatkan sumber air secara bijaksana untuk generasi sekarang dan generasi yang akan datang.
  • Berwawasan lingkungan, untuk menjaga kelestarian sumber daya air, menjamin terlaksananya konsep pengelolaan sumber daya air secara total (total groundwater basin management concept).
  • Siklus pengelolaan seharusnya tetap diimplementasikan untuk evaluasi efektivitas pengelolaan airtanah dan dilakukan melalui koordinasi antara pemerintah dan masyarakat.

Kebijakan Negara berdasar aturan perundangan mengamanatkan kepada pemerintah untuk mengatur dan menjamin kebutuhan dan memberikan perlindungan hak setiap individu bangsa untuk mendapatkan air bagi pemenuhan kebutuhan pokok minimal sehari-hari guna memenuhi kehidupan yang sehat, bersih, dan produktif, termasuk pula memberikan perlindungan terhadap resiko yang timbul akibat potensi dan daya air.

Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Sumber Daya Air,  Pasal 1 mengatur tentang :

1.    Kebijakan peningkatan konservasi sumber daya air secara terus menerus,
2.    Kebijakan pendayagunaan sumber daya air untuk keadilan dan kesejahteraan masyarakat,
3.    Kebijakan pengendalian daya rusak air dan pengurangan dampak,
4.    Kebijakan peningkatan peran masyarakat dan dunia usaha dalam pengelolaan sumber daya air, dan
5.    Kebijakan pengembangan jaringan sistem informasi sumber daya air dalam pengelolaan sumber daya air nasional terpadu.

Kebijakan tersebut selanjutnya menjadi acuan bagi menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, menyusun dan menetapkan kebijakan nasional,  gubernur, atau bupati / walikota. menetapkan dan menjabarkan lebih lanjut dalam kebijakan teknis yang terintegrasi dalam kebijakan pengelolaan sumber daya air yang berfungsi sebagai arahan dalam pengelolaan airtanah di wilayah administrasi yang bersangkutan, baik provinsi maupun kabupaten/kota.  Kebijakan ini bersifat mendasar untuk mencapai tujuan, melakukan kegiatan atau mengatasi masalah tertentu dalam rangka penyelenggaraan pengelolaan airtanah.
Pemerintah daerah sebagai  pranata hukum, bertindak sebagai ujung tombak pelaksanaan konservasi sumberdaya airtanah di daerah masing-masing.  Pelaksanaan pengelolaan airtanah tidak mendasarkan pada batas administrasi suatu daerah, tetapi harus tetap mengacu pada konfigurasi cekungan air bawah tanah dengan memperhatikan kondisi batas hidrogeologi yang ada.

PENUTUP

Sumberdaya air merupakan kebutuhan pokok bagi semua makhluk hidup, keberadaannya mempunyai fungsi sosial, lingkungan dan ekonomi, oleh karena itu pengelolaannya harus dapat menjamin kelestarian dan ketersediaannya secara berkesinambungan. Dengan demikian mampu menjamin pemenuhan kebutuhan yang berkecukupan secara berkelanjutan.
Managemen dan konservasi sumberdaya airtanah mutlak dilaksanakan secara terpadu (multi sektor), menyeluruh, berkelanjutan dan berwawasan lingkungan sebagai satu kesatuan pengelolaan. Tantangannya terletak pada bagaimana seluruh stakehoulder (segenap elemen masyarakat, swasta dan pemerintah ) berperan aktif mendukung, mendorong, memfasilitasi dan menciptakan ide-ide kreatif untuk kegiatan dan kebijakan yang berpihak pada aksi konservasi airtanah.
Keterpaduan dalam pengelolaan airtanah dan partisipasi berbagai pihak yang berkepentingan untuk melakukan yang terbaik akan menyelamatkan bumi kita dari bencana krisis airtanah.  Dan  kebijakan pengelolaan sumber daya air sebagai bagian dari kebijakan pembangunan nasional harus menjamin terwujudnya keseimbangan pemanfaatan dan konservasi airtanah secara optimal, dan ini harus dikelola  lebih serius dengan komitmen yang kuat.

*) Penyelidik Bumi Madya – Dinas ESDM Provinsi Sulawesi Selatan


REFFERENSI

Anonymous, 1993,               Water Resources Management. A World Bank Policy Paper, The World Bank, Washington D.C.

Heru Hendrayana, Dr, 2003, Sistem Pengelolaan Sumberdaya Air Bawah Tanah Yang Berkelanjutan, Geological Engineering Dept., Faculty of Engineering,       

                                          Gadjah Mada University

Nuhung, S, 2012,                 Geologi Tata Lingkungan Untuk Perencanaan Wilayah, Malabo Print, Makassar

--------------------------         2005, Airtanah di Indonesia dan Pengelolaannya, Direktorat Tata Lingkungan Dan Kawasan Pertambangan, Dirjen Geologi Dan

                                         Sumberdaya Mineral, Dep. ESDM

--------------------------         Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 Tentang Sumber Daya Air.

--------------------------        Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sumber Daya Air, 

--------------------------        Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2008 Tentang Air Tanah.

--------------------------        Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2012 Tentang Pengelolaan Daerah Aliran Sungai,

--------------------------        Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2008 Tentang Air Tanah

--------------------------        Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2011 Tentang Kebijakan Nasional Pengelolaan Sumber Daya Air

--------------------------        Peraturan Menteri ESDM Nomor 15 Tahun 2012 Tentang Penghematan Penggunaan Air Tanah

INFORMASI SEKRETARIAT

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Prev Next

BULETIN “GEO ENERGI”

BULETIN  “GEO ENERGI”

BULETIN  “GEO ENERGI”Edisi Khusus 2015-2016 Gambaran Umum Tentang Berbagai Program dan Kegiatan Dinas Energi Dan Sumber Daya Mineral Provinsi Sulawesi Selatan Dalam Rentang Periode 2015 - 2016 dituangkan Dalam Bentuk Pembuatan...

Read more

Program Kerja & Strategi

Program Kerja & Strategi

Program yang dilaksanakan dalam tahun 2008 – 2013 antara lain: Program Peningkatan Sumberdaya Manusia Energi dan Sumber Daya Mineral Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Program Peningkatan Pengembangan Sistem Pelaporan...

Read more

LAPORAN KINERJA (LKj)

LAPORAN KINERJA (LKj) DINAS ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL PROVINSI SULAWESI SELATAN TAHUN 2015     KATA PENGANTAR Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas Rahmat -Nya sehingga penyusunan Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKj)...

Read more

SOSIALISASI PENGELOLAAN SAMPAH MENJADI SUMBER ENERGI DI…

SOSIALISASI PENGELOLAAN SAMPAH MENJADI SUMBER ENERGI DI PAREPARE

Parepare---Sampah pada dasarnya merupakan suatu bahan yang terbuang atau di buang dari suatu sumber hasil aktivitas manusia maupun proses-proses alam yang tidak mempunyai nilai ekonomi, bahkan dapat mempunyai nilai ekonomi...

Read more

CAPAIAN INDIKATOR KINERJA SASARAN STRATEGIS

CAPAIAN INDIKATOR KINERJA SASARAN STRATEGIS

CAPAIAN INDIKATOR KINERJA SASARAN STRATEGIS DINAS ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL PROVINSI SULAWESI SELATAN TAHUN 2013 - 2015

Read more

JURNAL

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Prev Next

MINERAL DAN ENERGI DALAM PUSARAN KEMARITIMAN TELUK BONE

MINERAL DAN ENERGI DALAM PUSARAN KEMARITIMAN TELUK BONE

  Oleh M.Djafar (Penyelidik Bumi Dinas ESDM Sul-Sel)   Indonesia sebagai Negara maritim sudah dikenal sejak dahulu; semboyan Jalasveva Jayamahe (di laut kita jaya) merupakan simbol untuk menunjukkan bagaimana kejayaan dan kemakmuran serta kekayaan...

Read more

EKSPLORASI UMUM BAHAN GALIAN LEUSIT

EKSPLORASI UMUM BAHAN GALIAN LEUSIT

EKSPLORASI UMUM BAHAN GALIAN LEUSIT DI KABUPATEN BARRU Oleh : Ryandi Januar Pratama, ST Staf / Fungsional Umum Bidang Geologi dan SDM Dinas ESDM Prov Sulsel   PENDAHULUAN Mineral leusit merupakan bahan galian industri yang...

Read more

GEOLOGI LINGKUNGAN

GEOLOGI LINGKUNGAN

OLEH : MUH. JAFAR 1. PENDAHULUAN Geologi Lingkungan merupakan cabang ilmu geologi yang mempelajari interaksi antara alam yang disebut lingkungan geologis (geological environment) dengan aktivitas manusia yang bersifat timbal balik. Geologi Lingkungan...

Read more

MENGENAL POTENSI PANAS BUMI KANANDEDE KECAMATAN LIMBON…

MENGENAL POTENSI PANAS BUMI KANANDEDE  KECAMATAN LIMBONG KAB.LUWU UTARA

OLEHNATANIEL CJ.TAPPI*) I.PENDAHULUAN Kebutuhan pada sektor energi hingga saat ini menjadi salah satu tulang punggung dalam upaya  dapat menopang laju pembangunan yang semakin genjar dilaksanakan baik oleh pemerintah maupun elemen masyarakat lain...

Read more

PENANGGULANGAN BENCANA GERAKAN TANAH BERBASIS MASYARA…

 PENANGGULANGAN  BENCANA GERAKAN TANAH BERBASIS MASYARAKAT

oleh : Slamet Nuhung Penyelidik Bumi Madya   1. PENDAHULUAN   Gerakan tanah merupakan peristiwa alam yang sering terjadi di berbagai wilayah di Indonesia, biasanya dimusin hujan. Dari sebagian kejadian gerakan tanah...

Read more

 DINAS ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL

Jalan : A. P. Pettarani Telp. (0411) 873045 – 873624 – 874467 Fax (0411) 873524 (Hunting) 875543

MAKASSAR Kode Pos 90222