Bidang Geologi & Sumberdaya Mineral

Facebook

Twitter

Google Plus

YouTube

ENDAPAN MINERAL BIJIH DI SULAWESI SELATAN
Oleh:
Irzal Nur
1Laboratorium Eksplorasi Mineral, Program Studi Teknik Pertambangan, Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin, Kampus Fakultas Teknik UNHAS, Gowa.
2Staf Ahli Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Sulawesi Selatan.

Email: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

 

1. Pendahuluan

Tulisan ini disarikan dan diterjemahkan dari makalah Theo M. van Leeuwen dan Peter E. Pieters yang berjudul “Mineral Deposits of Sulawesi” yang dimuat dalam Proceedings Seminar on Sulawesi Mineral Resources Manado 2011 dan bukunya yang diterbitkan oleh Badan Geologi di tahun 2012, khusus pada endapan mineral bijih (logam) di wilayah Provinsi Sulawesi Selatan.

Mineralisasi tertua yang diketahui di Sulawesi Selatan adalah kromit pada Kompleks Barru yang berumur Kapur, yang terbentuk pada batuan peridotit terserpentinisasi yang diintrusi oleh diorit dan dasit, dan berkembang baik pada zona-zona struktur (shear zones) serta kontak-kontak intrusi (Purawiardi, 2008).

Mineralisasi tembaga terbentuk pada Formasi Toraja, yang dulunya dikenal dengan nama Formasi “Koper-Lei” (Copper-Slate atau Tembaga-Batusabak), yaitu di lereng-lereng bukit Pegunungan Latimojong, dalam bentuk kantong-kantong kecil tembaga-natif dan malakit pada sekuens batuan serpihan (van Bemmelen, 1949). Hanya sedikit prospek Cu porfiri yang diketahui di wilayah Sulawesi Selatan, di mana semuanya tampaknya berasosiasi dengan intrusi-intrusi Neogen berkomposisi alkali potasik yang di sekelilingnya terbentuk mineralisasi urat dan/atau skarn.

Mineralisasi yang berasosiasi dengan batuan-batuan intrusif selain tipe porfiri antara lain urat-urat logam dasar di Baturappe, urat-urat logam dasar-Au di Esang, dan skarn magnetit-hematit di Tandjung dan Salo Talimbangan.

Kelompok (cluster) kecil endapan tipe Kuroko dijumpai di daerah Sangkaropi. Batu-besi (ironstones) manganis yang merupakan produk pelapukan mineralisasi sulfida dan magnetit ditemukan terbentuk secara luas di daerah Biru.

Mineralisasi emas tipe epitermal kurang berkembang di wilayah ini. Di bagian timur, sejumlah endapan emas signifikan dijumpai di daerah Awak Mas dan Palopo, yang diklasifikasikan sebagai endapan urat Au intrusion-related dan dibahas pada bagian “emas pada daerah metamorfik”.


2. Tembaga ± Emas Porfiri

Prospek tembaga porfiri terdapat di daerah Sasak dan Seko, keduanya ditemukan melalui program sampling geokimia reconnaissance oleh Lembaga Survei Geologi Indonesia dan uji pemboran oleh PT. Aneka Tambang di awal tahun 1970-an. Tidak banyak informasi yang diketahui tentang prospek Seko kecuali mineralisasi Cu kadar rendah, 0,40% (Geomin, 2010). Prospek Seko akan diuraikan tersendiri pada bagian berikut.
Selain itu, prospek tembaga porfiri juga dijumpai di daerah Mallawa. Prospek Mallawa, yang dijumpai di sekitar desa Mallawa, merupakan temuan baru. Hingga saat ini baru penyelidikan pendahuluan yang telah dilakukan (www.terrafirmaresources.com). Mineralisasi tembaga (urat-urat halus malakit dan kalkopirit, dan gossan Cu) dijumpai dalam bentuk float dan singkapan yang berasosiasi dengan tubuh diorit tergerus (sheared) dan teralterasi. Alterasi potasik (segregasi K-felspar dan biotit) di-overprint oleh himpunan alterasi filik (kuarsa-serisit-pirit-kaolinit) dan dikelilingi oleh alterasi propilitik. Urat-urat skarn yang didominasi oleh karbonat dan mengandung kalkopirit, pirit, dan arsenopirit juga dijumpai.


Distrik Sasak

Mineralisasi tembaga porfiri ditemukan di daerah Sasak di tahun 1969. Prospek ini telah dieksplorasi secara tidak berkelanjutan antara tahun 1972 hingga 1998 oleh PT. Aneka Tambang, Aberfoyle, dan North Ltd., dan saat ini (tahun 2011) sedang diinvestigasi oleh Victory West Moly melalui pemboran pada sekitar 43 titik. Uraian berikut ini didasarkan pada laporan-laporan oleh Taylor and van Leeuwen (1980), Muller (1998), dan Swager (1998); penampangnya diperlihatkan pada Gambar 1.

Daerah Sasak disusun terutama oleh andesit, diorit, dan berbagai jenis breksi tufa, yang diintrusi oleh stok-stok dan retas-retas monzonit. Daerah ini memperlihatkan anomali magnetik yang kuat yang merefleksikan kandungan magnetit yang tinggi dari batuan-batuan dioritik dan andesitik yang mendominasi litologi Sasak. Intrusi-intrusi monzonit tersebut bertekstur porfiritik menengah hingga kasar dan disusun oleh kristal-kristal kasar (mencapai 10 mm) plagioklas dan alkali felspar serta kristal-kristal halus biotit, yang kesemuanya tertanam dalam massa dasar halus alkali felspar dan sedikit kuarsa. Tidak ada laporan tentang komposisi geokimia dan umur dari batuan intrusi tersebut, tetapi nampaknya batuan ini merupakan anggota dari kelompok batuan potasik yang berumur Neogen. Ada tiga jenis breksi tufa yang dikenali, yaitu breksi andesitik, breksi polimik yang mengandung fragmen-fragmen diorit, andesit, monzonit dan batulanau tersilisifikasi, serta breksi tufa felsik, yang dideskripsi sebagai “monzonit terfragmenkan”.

Daerah Sasak dipotong oleh koridor struktural berarah baratlaut, yang membentuk anomali magnetik rendah, yang kemungkinan merefleksikan kehadiran intrusi stok monzonit memanjang di kedalaman. Sistem struktur yang kedua, yaitu fracture-fault yang berkembang dengan baik, berarah timurlaut. Kedua sistem struktur ini (timurlaut dan baratlaut) diinterpretasikan dikontrol masing-masing oleh gaya ekstensional dan kompresional, yang berhubungan dengan pergerakan sistem sesar strike-slip lateral menganan di sepanjang sistem sesar Saddang yang berarah utara, yang berkembang di sekitar daerah tersebut, yang kemungkinan merupakan kelanjutan dari sistem sesar Walane Timur yang ada di bagian selatan. Struktur-struktur ekstensional yang berarah timurlaut berasosiasi dengan zona alterasi sempit, urat-urat galena, retas-retas, dan breksi hidrotermal.

Sistem porfiri Sasak dicirikan oleh pola alterasi yang terzonasi (Gambar 1), yang tipikal pada endapan-endapan Cu-Au porfiri di seluruh dunia. Alterasi propilitik terebar luas pada daerah sekitar 3,5 x 2,5 km2, yang di antaranya terdapat zona alterasi-kuat lempung-pirit-jarosit yang mencakup daerah seluas 1.000 x 700 m2. Alterasi sentral potasik (biotit-magnetit) tersingkap di tiga zona, yaitu di S. Doi, S. Darung (± 800 m baratlaut Doi), dan S. Patani (± 600 m tenggara Doi). Ketiga zona ini terbentuk di dalam koridor struktural yang berarah baratlaut, dua yang terakhir (S. Darung dan S. Patani) terbentuk pada perpotongan sesar-sesar yang berarah timurlaut. Alterasi potasik ini dikelilingi dan sebagian di-overprint oleh alterasi argilik (kaolinit-jarosit) dan filik (pirit-serisit). Pada tahap akhir, terbentuk urat-urat anhidrit yang saling potong-memotong. Setempat, anhidrit me-replace urat-urat pirit. Alterasi argilik umumnya dikontrol oleh struktur.

Zona S. Darung memanjang sekitar 130 m dan dikelilingi oleh alterasi kaolinit-jarosit, yang bergaradasi ke luar ke alterasi propilitik. Sejumlah urat kuarsa-pirit-kalkopirit-sfalerit-galena terbentuk baik di bagian utara maupun selatan zona potasik ini dan mengandung hingga 8,9 g/t Au. Di S. Patani, zona potasik tersingkap lebih dari 80 m dan ditindih oleh batuan-batuan teralterasi kaolinit-jarosit sedang hingga kuat. Zona ini mengandung anomali-anomali Au dan Cu yang koheren, yang mengindikasikan kemungkinan kehadiran mineralisasi tipe porfiri di kedalaman. Interpretasi ini konsisten dengan kehadiran alterasi argilik pada batuan-batuan di sekitarnya, serta adanya retas-retas monzonit yang teralterasi potasik yang mengandung urat-urat kuarsa-pirit-kalkopirit.

Mineralisasi Cu-Au porfiri di S. Doi di-host oleh sekuens breksi tufa monzonitik dan retas-retas monzonit yang saling berpotongan, baik yang syn- maupun post-mineralisasi. Sekuens ini terhenti tiba-tiba di kedalaman 40 m, dipotong oleh sesar bersudut kecil yang miring ke utara-timurlaut. Sesar naik ini meng-implace tubuh mineralisasi di bagian atas breksi polimik pada arah baratdaya hingga tenggara. Sebuah tubuh intrusi monzonit di bawah permukaan, di bagian baratlaut Sasak, kemungkinan merupakan bagian bawah atau bagian autoktonus dari sistem porfiri termineralisasi ini. Urat-urat kuarsa termineralisasi, stockworks, dan fractures yang orientasinya searah dengan struktur utama, yaitu urat-urat kuarsa-Kfelspar-pirit-kalkopirit-bornit-magnetit dipotong oleh urat-urat kuarsa±pirit±kalkopirit±bornit yang berarah timurlaut dan berkemiringan terjal. Mineralisasi urat sulfida ini meng-overprint mineralisasi magnetit-pirit-kalkopirit terdiseminasi yang lebih dulu terbentuk. Hasil pemboran menunjukkan kadar terbaik pada kedalaman 76 m yaitu 0,4 g/t Au, 0,22% Cu, dan 99 m dengan kadar 0,35 g/t Au, 0,25% Cu. Hal ini menunjukkan rasio Au (ppm): Cu (%) >1.

Terdapat korelasi yang kuat antara tingginya intensitas urat kuarsa dengan tingginya kadar (Kavalieris, 2001). Distrik Sasak ini juga mengandung mineralisasi tipe intrusion-related, yaitu urat-urat logam dasar-Au dan skarn (van Bemmelen, 1949).

3. Endapan Volcanogenic Massive Sulphides (VMS)

Di distrik Sangkaropi, Toraja Utara, mineralisasi VMS tipe Kuroko terdapat di tiga lokasi, yaitu Sangkaropi, Rumanga, dan Bilolo, yang ketiganya terdistribusi linier pada arah baratdaya-timurlaut. Penambangan skala kecil telah dilakukan oleh Jepang selama masa Perang Dunia Kedua. Kemudian mulai di tahun 1974 PT. Aneka Tambang melakukan program eksplorasi besar-besaran selama beberapa tahun, termasuk sejumlah pemboran dangkal yang detail. Dari tahun 1987 hingga 1994 Aberfoyle menginvestigasi distrik ini melalui program eksplorasi sebagai bagian dari Kontrak Karyanya. Perusahaan ini melakukan survei UTEM, tetapi tidak menemukan mineralisasi yang signifikan. Mineralisasi berbentuk lensa-lensa dengan panjang mencapai 70 m dan lebar 18 m, yang terbentuk pada zona kontak antara satuan tufa-lava riolitik dan satuan andesit di bagian bawahnya. Satuan riolit ini ditindih oleh satuan napal yang mengandung kumpulan foraminifera Oligosen Tengah (?) (Jones and Kristianto, 1994), yang mengindikasikan bahwa mineralisasi terjadi pada Oligosen. Yoshida et al. (1982) melaporkan dua tipe mineralisasi, yaitu: (i) bijih singenetik sulfida masif stratiform dan terbreksikan, dan (ii) urat dan stockwork (epigenetik) yang berada di bagian bawah bijih singenetik. Lapisan tipis barit menutupi lensa-lensa bijih tersebut.

Tiga tipe bijih dilaporkan oleh Jurkovic and Zalokar (1990): (i) bijjih kuning yang tersusun oleh pirrhotit dan pirit (secara paragenesis lebih awal), dan limpahan kalkopirit dengan sedikit sfalerit, tetrahedrit dan enargit; (ii) bijih hitam yang disusun oleh pirit, sfalerit dan tetrahedrit, serta mineral-mineral asesori kalkopirit, kalkosit dan galena; (iii) bijih impregnasi (pengisian) yang terdiri atas pirit tersebar pada host rocks tersilisifikasi. Kuarsa merupakan mineral gangue utama. Yoshida et al. (1982) melaporkan kisaran temperatur pengisian inklusi fluida yang panjang, yang meliputi 250-160oC untuk bijih stockwork, 184-160oC untuk sfalerit, dan 280-200oC untuk kuarsa-druse pada bijih stratiform; kisaran temperatur yang ketiga ini tipikal pada mineralisasi Kuroko di Jepang. Dengan mengasumsikan bahwa temperatur maksimum mineralisasi adalah 280oC dan kurang/tidak dijumpainya indikasi fenomena boiling, maka disimpulkan bahwa pengendapan bijih terjadi pada kedalaman laut yang tidak kurang dari 640 m (van Leeuwen and Pieters, 2011).



4. Emas pada Terrain Metamorfik

Baru-baru ini mineralisasi primer pada daerah (terrain) metamorfik ditemukan di tiga distrik/prospek di Busur Sulawesi Bagian Barat, yaitu Poboya di Kompleks Metamorfik Palu (Sulawesi Tengah), dan Palopo serta Awak Mas di Kompleks Latimojong dan sekitarnya (Sulawesi Selatan). Ketiga endapan ini memiliki beberapa kesamaan fitur, yatu: (1) berlokasi di sekitar struktur mayor,    (2) tidak memiliki hubungan spasial dengan batuan volkanik, (3) rasio Au/Ag dan kandungan logam dasar yang rendah, dan (4) kuarsa dan karbonat merupakan mineral-mineral gangue yang dominan. Poboya tampaknya terbentuk pada level struktural yang lebih tinggi dibandingkan dua endapan lainnya.


4.1. Distrik Awak Mas

Uraian tentang distrik Awak Mas ini dirujuk dari Katchan (1994), Archibald et al. (1996), Cox et al. (1998), RSG Global (2004), Querubin and Walters (2011). 
Endapan Awak Mas terdapat bersama-sama dengan empat prospek lain di sekitarnya, yang terletak di lereng Pegunungan Latimojong, sekitar 67 km baratdaya Palopo. Wilayah distrik ini dicirikan oleh topografi yang sedang hingga kasar, dengan elevasi berkisar 800-1.500 m di atas muka laut. Sejumlah aktifitas telah dilakukan di distrik mineralisasi ini, termasuk pemboran dan crushing pasir secara mekanis. Waktu kegiatan-kegiatan tersebut tidak diketahui dengan pasti.

Endapan Awak Mas ditemukan (-kembali) (re-discovered) di tahun 1989 oleh New Hope Consolidated Industries Pty. Ltd. (NHCL) melalui program eksplorasi regional. Kemudian di tahun 1991, Battle Mountain Gold melakukan kontrak dengan NHCL, untuk melakukan eksplorasi. Pemboran awal (diamond drilling) pada 74 titik menghasilkan mineralisasi yang signifikan. Tetapi, Battle Mountain Gold memutuskan untuk mundur dari proyek ini dan menjual sahamnya ke Lone Star Exploration (LSE), yang kemudian menjual lagi 45% sahamnya ke Gasgoyne Gold Mines NL (GGM). Kedua perusahaan ini kemudian melakukan pemboran pada 791 titik (DDH dan RC) di Awak Mas dengan total kedalaman sekitar 95.800 m, antara tahun 1993 hingga 1997. Di tahun 1996, studi kelayakan (feasibility study) dilakukan berdasarkan mining and milling rate 3 Mt per tahun. Di tahun 1998 Placer Dome ikut ke dalam perjanjian joint venture dengan Masmindo Mining Corporation Ltd. (MMC), di mana LSE dan GGM masing-masing memegang 45% saham. Setahun kemudian kedua perusahaan tersebut menarik diri, setelah melakukan pemboran uji pada dua prospek di kawasan Awak Mas, yaitu prospek Salu Bulo dan prospek Tarra; di prospek Salu Bulo didapatkan sumberdaya geologi (geological resource) sebesar 160.000-230.000 ons emas. Sebanyak 43 titik telah dibor, dengan total kedalaman sekitar 3.400 m.

Proyek eksplorasi ini kemudian dilanjutkan oleh Vista Gold Corporation di tahun 2004. Perusahaan ini telah melakukan berbagai macam studi, dan di tahun 2006 melakukan uji pemboran pada dua prospek lainnya, yaitu prospek Rante dan prospek Lematik, yang meliputi pemboran pada 13 titik dengan total kedalaman 2.570 m. Di akhir tahun 2009, setelah mendapatkan asumsi bahwa proyek Awak Mas dapat dikembangkan, Pan Asia Resources (One Asia Resources Ltd.) melakukan program pemboran dengan tujuan untuk meningkatkan katagori sumberdaya terduga menjadi terukur dan/atau terindikasi. Hingga pertengahan tahun 2011, 75 titik (total kedalaman 5.137 m) telah selesai dibor.

Secara keseluruhan, 1.012 titik dengan total kedalaman 118.081 m telah dibor, dengan menghabiskan biaya lebih US$ 30 juta.

Distrik Awak Mas berlokasi di bagian selatan Kompleks Latimojong. Di bagian baratnya, distrik ini terpisah dari Formasi Toraja (berumur Eosen) oleh sebuah sesar-naik yang miring ke timur, sedangkan bagian timurnya dibatasi oleh struktur basement mayor (melange) yang sejajar dengan Kompleks Ofiolit Lamasi. Kompleks Latimojong terdiri atas: Formasi Latimojong yang termetamorfosis lemah, sekuens flysch turbiditik dengan interkalasi batuan volkanik andesitik dan batugamping (berumur Kapur Atas), dan batuan basement yang termetamorfosis kuat yang terdiri atas sekis biru dan jenis-jenis sekis lainnya, serpentinit dan metadolerit, yang setempat-setempat memperlihatkan foliasi yang sangat contorted (berubah-ubah/bervariasi arahnya). Unit-unit metamorfik ini diintrusi oleh plugs dan stocks diorit, monzonit, dan sienit, yang kemungkinan merupakan anggota dari kompleks batuan beku kalk-alkali hingga alkali potasik (kaya-K) berumur Neogen.


Batuan basement merupakan anggota dari zona akresi yang terlepas pada Kapur Tengah, yang memanjang dari Sulawesi Tengah dan menerus ke Kompleks Bantimala di Jawa (Parkinson et al., 1998). Pemboran yang dilakukan di distrik Awak Mas mengindikasikan bahwa batuan basement ini membentuk slab yang tebalnya sekitar 250 m, yang secara tektonik terinterkalasi ke dalam sekuens flysch. Di daerah ini batuan flysch disusun oleh metapelites- dan metapsammites terfoliasi dengan protolit berupa batulumpur grafitik, yang didominasi oleh batulumpur- hingga batulanau kehjauan, dan batupasir litik berbutir halus. Sekuens ini ditutupi oleh batupasir tufaan berbutir kasar yang terfoliasi, yang sebagian besar tertekan (confined) membentuk punggungan melengkung (ridge crests). Interval-interval tergerus (sheared)/milonitik terbentuk sebagai interbeds yang orientasinya sejajar hingga hampir sejajar dengan foliasi, umumnya di antara struktur-struktur mayor. Sekuens ini direpresentasikan oleh suatu seri zona sesar yang hampir vertikal, yang sejajar hingga hampir sejajar, dan berarah utara-timurlaut hingga timurlaut. Pergerakan-pergerakan struktural, baik pada saat dan setelah mineralisasi, menyebabkan teralih-tempatkannya (displaced) zona-zona mineralisasi di prospek Awak Mas. Tampaknya displacement yang mula-mula terjadi bersifat dekstral, yang kemudian berubah menjadi pergerakan sinistral.

Mineralisasi emas di distrik Awak Mas dominan di-host oleh sekuens flysch Kapur Atas yang miring 15-50o ke arah utara. Mineralisasi emas ini umumnya berasosiasi dengan limpahan urat kuarsa dan disertai dengan alterasi albit-pirit-kuarsa-karbonat yang meng-overprint material yang ductile fabrics. Mineralisasi ini umumnya terlokalisasi pada batulumpur grafitik yang berwarna gelap, terutama jika batuan tersebut ter-interleaved secara tektonik dengan batulumpur yang gelap. Mineralisasi ini juga dijumpai pada basement sekis dan berasosiasi dengan shear zones (zona-zona gesekan) di dalam sekuens ofiolit. Sesar-sesar normal yang oblique, dan shears serta fractures yang ekstensional, terbentuk sebagai respon dari deformasi ekstensional, yang berperan sebagai kontrol lokal terhadap mineralisasi, demikian juga dengan foliasi. Kedalaman oksidasi maksimal 20 m.

Dua tipe utama mineralisasi dijumpai, di mana keduanya menunjukkan karakteristik mesotermal; yang pertama adalah zona berkemiringan landai dari urat-urat kuarsa sheeted dan asosiasi alterasinya yang umumnya sejajar dengan shear fabric, terutama pada batulumpur gelap; dan yang kedua adalah zona-zona terjal yang berasosiasi dengan sesar-sesar bersudut besar yang memotong basement sekis dan sekuens flysch. Sesar-sesar berkemiringan terjal dan shear zones tersebut berasosiasi dengan perulangan limpahan-silika dan breksiasi. Struktur-struktur ini kemungkinan merepresentasikan zona feeders utama mineralisasi di mana emas berkadar tinggi berasosiasi kuat dengan tingginya kadar perak dan logam-logam lainnya.

Hasil-hasil studi mineralogi yang masih terbatas mengindikasikan bahwa emas terbentuk baik sebagai inklusi dalam pirit, maupun tersebar di sepanjang kontak antara butiran-butiran pirit. Di samping itu, emas juga dijumpai terbentuk bersama-sama dengan sejumlah kecil kalkopirit dan sfalerit, sebagai inklusi dalam pirit tersebut. Spesies-spesies sulfida lain yang teramati adalah kovelit, arsenopirit, bornit, dan tetrahedrit. Walaupun mineralisasi ini didominasi oleh asosiasi emas-pirit, namun sistem alterasinya secara keseluruhan rendah-sulfur. Urat-urat kuarsa termineralisasi dikelilingi oleh halo alterasi klorit di bagian luar, dan halo albit±karbonat di bagian dalam. Terminologi alterasi klorit ini mungkin menyesatkan karena tipe alterasi ini menandai oksidasi dari material karbonatan menjadi karbonat, yang disertai dengan perubahan warna dari abu-abu/hitam menjadi hijau. Front klorit/oksidasi ini meluas dari hanya beberapa meter menjadi maksimal 10 m dari urat-urat termineralisasi. Front oksidasi yang berkembang baik ini, dan kurangnya kehadiran hematit, membuktikan kondisi oksidasi dari fluida-fluida mineralisasinya. Spesies-spesies mineral karbonat yang terdapat baik pada batuan samping maupun dalam urat adalah kalsit, ankerit, dan dolomit. Mineral-mineral karbonat ini kemungkinan besar bersumber dari oksidasi host rocks. Alterasi albit yang intensif, membentuk halo di sekitar mineralisasi, dengan lebar bervariasi dari puluhan cm hingga satu meter.

Archibald et al. (1996) berpendapat bahwa sekuens flysch tampaknya bukan merupakan sumber dari emas, karena kelompok batuan sedimen tipe ini secara inheren umumnya memiliki kandungan emas yang rendah. Jika sumber fluida mineralisasi ini adalah batuan potasik Neogen, maka produk-produk alterasinya seharusnya merupakan kumpulan mineral yang kaya-potasik (tapi ini juga tidak terjadi). Tampaknya yang lebih memungkinkan menjadi sumber fluida mineralisasi adalah kelompok basement sekis biru dan asosiasi serpentinit dan/atau ofiolitnya. Metasomatisme sodik yang intensif yang secara bervariasi menyertai alterasi hidrotermal dasar samudera yang bertemperatur rendah/sedang, suatu lingkungan/kondisi di mana emas terlindikan (leached) dari batuan-batuan basaltik-gabroik, merupakan skenario yang lebih memungkinkan.

Archibald et al. (1996) dan Cox et al. (1998) menduga bahwa mineralisasi emas terjadi pada kisaran 8-6 juta tahun yang lalu, berdasarkan hubungan-hubungan saling potong-memotong (cross-cutting relationships), dating radiometrik, dan penumpang-tindihan temperatur-temperatur fluida pada kurva-kurva fission track. Data umur radiometrik dan fission track ini bersumber dari Bergman et al. (1996).

Sumberdaya- Terukur dan Terindikasi distrik Awak Mas saat ini (2011)  adalah 41,7 Mt pada 1,23 g/t Au, dan Sumberdaya Terduga-nya sebesar 20,4 Mt pada 0,82 g/t Au; keduanya dihitung menggunakan cut-off grade 0,50 g/t Au.

4.2. Distrik Palopo

Uraian tentang distrik Palopo ini diikhtisarkan dari laporan yang ditulis oleh McLean (2010), informasi yang diberikan oleh P. Flindell (komunikasi tertulis, 2008), dan makalah terbaru oleh Musri et al. (2011), yang didasarkan pada tesis magister (Musri, 2001).

Terdapat laporan-laporan yang bersifat anekdot tentang prospeksi emas dan logam dasar di daerah ini selama masa kolonial Belanda, dan pendulangan emas di Sungai Latuppa di tahun 1960-an. Melalui program stream sediment sampling yang dilakukan oleh PT. Aneka Tambang di daerah ini di akhir tahun 1990-an, sejumlah anomali Au-Pb-Zn-Cu ditemukan. Eksplorasi tindak-lanjut yang kemudian dilakukan menghasilkan ditemukannya prospek-prospek Mangkaluku dan Siguntu, yang masing-masing berlokasi sekitar 6 km dan 10 km di sebelah baratdaya Palopo, dan prospek-prospek lainnya (Gambar 3). Parit uji yang dibuat di Mangkaluku menghasilkan zona-zona mineralisasi emas yang sangat luas, tetapi hasil uji pemboran (11 titik, 1.831 m) pada zona-zona tersebut hanya menghasilkan zona mineralisasi yang sempit, dan PT. Aneka Tambang akhirnya meninggalkan lokasi ini.

 

Setelah me-review data geologi dan eksplorasi di Sulawesi Bagian Barat, Avocet kemudian mengambil lokasi seluas 150.000 ha di region ini di tahun 2005, yang setelah melalui studi pendahuluan kemudian direduksi menjadi hanya blok Palopo. Program parit uji dan channel sampling dilakukan di Mangkaluku pada singkapan-singkapan mineralisasi dan juga pada daerah-daerah anomali yang diidentifikasi dari soil sampling, yang kemudian ditindak-lanjuti dengan program pemboran pada 12 titik. Seperti pada hasil pemboran yang dilakukan PT. Aneka Tambang, hasil pemboran Avocet ini tidak dapat mengonfirmasi sebaran permukaan dari mineralisasi ini, yang kemungkinan disebabkan oleh pengayaan supergen dekat permukaan, walaupun batuan-batuannya tidak mengalami pelapukan yang dalam. Kepemilikan konsesi kemudian berganti di tahun 2010/2011 melalui Reliance Resources Ltd. ke Golden Peaks Resources Ltd.

Tatanan geologi distrik Palopo mirip dengan distrik Awak Mas; daerah mineralisasi berada pada zona batas antara unit-unit volkanik mafik anggota Kompleks Ofiolit Lamasi dengan batuan-batuan metasedimen anggota Formasi Latimojong yang berumur Kapur Atas, yang diintrusi oleh Granit Palopo berumur Miosen Akhir. Granitoids ini berkomposisi monzonit hingga monzodiorit dan memperlihatkan tekstur foliasi yang lemah.

Di Mangkaluku, mineralisasi emas di-host oleh urat-urat kuarsa-karbonat yang mengandung pirit dan arsenopirit (< 3%), yang dikontrol oleh sesar dan shears yang terutama berkembang pada monzodiorit porfiritik berbutir kasar. Urat-urat tersebut terkonsentrasi pada dua zona yang berarah utara-timurlaut dan timurlaut, yang masing-masing mengandung zona-zona urat kuarsa sheeted dan multiple vein yang secara setempat-setempat saling berdekatan, dan masing-masing memiliki sejumlah karakteristik khas (Gambar 4 dan 5). Lebar zona-zona urat berkisar 0,5 hingga puluhan meter, dengan lebar urat individual di dalam zona-zona tersebut bervariasi dari 5 hingga 30 cm. Zona mineralisasi bagian barat berukuran sekitar 300 m x 100 m, dan mengandung urat-urat kuarsa-sulfida yang miring sedang hingga terjal ke arah barat-baratlaut. Sedangkan zona bagian timur lebih luas secara lateral tetapi tidak menerus; zona ini mengandung zona-zona urat dan urat-urat individual dengan orientasi yang bervariasi. Kedua zona mineralisasi tersebut umumnya di-displace oleh sesar-sesar yang saling berpotongan.

Tiga himpunan mineral alterasi utama dikenali di Mangkaluku, yaitu: (1) biotit +/- Kfelspar-aktinolit-kuarsa-klorit (potasik); (2) kuarsa-klorit-serisit (filik), dan (3) kuarsa-klorit-epidot-aktinolit-kalsit (propilitik). Alterasi potasik di-overprint oleh kedua jenis alterasi lainnya. Alterasi sempit di sekitar urat (1,5 cm) berkembang lebih baik pada host rocks batuan volkanik dibanding host rocks batuan intrusif, dan ketika urat-urat saling berdekatan. Kumpulan mineral alterasinya meliputi albit-serisit, karbonat-klorit, serisit-silika, dan karbonat-klorit-kaolinit. Emas kadar tinggi tampaknya lebih berasosiasi dengan alterasi silika-serisit. Fasa-fasa karbonat didominasi oleh dolomit dan ankerit.

Mineralisasi terjadi dalam multiple episodes seperti yang diindikasikan oleh urat-urat bertekstur banded dan urat-urat yang saling berpotongan. Hal ini bersama-sama dengan bervariasinya orientasi urat kemungkinan merefleksikan adanya perubahan medan tegangan selama berlangsungnya mineralisasi. Lebih berkembangnya urat pada monzodiorit dibandingkan pada batuan-batuan volkanik mengindikasikan lebih kompetennya monzodiorit, yang memfasilitasi lebih efektifnya perkembangan sesar-sesar dilasional.

Sedikitnya empat generasi pembentukan urat yang dikenali, yang tertua menunjukkan afinitas tipe profiri. Mineralisasi emas berasosiasi kuat dengan arsenopirit dan pirit, dengan sedikit kalkopirit, kovelit dan kalkosit pada dua generasi urat. Emas hadir sebagai elektrum dan disertai dengan argentit. Kadar emas yang tinggi pada sebagian urat berhubungan dengan supergene enrichment pada zona 5 m bagian atas, di mana skorodit merupakan mineral yang umum dijumpai. Arsenopirit terbentuk sebagai bands pada urat-urat kuarsa masif dan pada urat-urat kuarsa berstruktur laminasi, yang hanya mengandung sedikit sulfida. Mineral-mineral karbonat tampaknya terbentuk pada fasa-fasa akhir paragenesis urat.

Pengukuran inklusi fluida pada 19 sampel urat menghasilkan tiga kisaran temperatur homogenisasi: 140-170oC, 200-270oC, dan 280-340oC. Salinitas bervariasi dari 0,2 hingga 6,2 wt.% NaCl equivalent. Tidak ada informasi tentang apa jenis material urat dan pada generasi urat yang mana pengukuran inklusi fluida ini dilakukan.

Di prospek Siguntu, yang berlokasi sekitar 5 km baratdaya Mangkaluku (Gambar 3), mineralisasi (emas) terbentuk pada kuarsa masif hingga kristalin, dengan asesori pirit dan sulfida-sulfida logam dasar yang berada pada (hosted in) zona kontak antara monzonit terfoliasi dan batuan-batuan metasedimen. Mineralisasi ini kemungkinan ekuivalen dengan urat-urat tipe porfiri yang dijumpai di Mangkaluku. Halo-halo alterasi di sekitar urat umumnya relatif sempit, yang terdiri atas silika-klorit dan lempung-silika-serisit. Belum pernah dilakukan uji pemboran di prospek ini karena terkendala issu kehutanan, tetapi penambang rakyat aktif bekerja.  
Prospek-prospek lain di distrik ini adalah Balantungan (di-host oleh andesit basaltik dan metasedimen), Mangkaluku Utara (kontak sesar antara monzodiorit dan metasedimen), Babak (monzodiorit), dan Battang (Gambar 3). Hingga saat ini (2011) prospek-prospek tersebut masih sedikit dieksplorasi.

Umur mineralisasi di distrik Palopo ditentukan berdasarkan dating umur Granit Palopo, yaitu dari hasil dating tiga K-Ar biotit: 5,4±0,2 hingga 6,8±0,3 juta tahun yang lalu, empat K-Ar hornblende: 6,0±0,3 hingga 10,7±1,1 juta tahun yang lalu, dan tiga fission track zirkon yang menunjukkan umur sekitar 6,3 juta tahun yang lalu (Bergman et al., 1996). Sehingga umur mineralisasi adalah Miosen Akhir atau lebih muda.

4.3. Tinjauan Tentang Tipe Genetik Endapan

Seperti telah disebutkan di atas, genesis dan klasifikasi dari distrik Awak Mas dan Palopo (termasuk distrik emas Poboya di Sulawesi Tengah) adalah problematik. Endapan-endapan ini dikelompokkan sebagai endapan emas Sulawesi Barat Bagian Tengah / the Central Western Sulawesi gold deposits.

P. Flindell (komunikasi tertulis, 2008) dan McLean (2010) mengusulkan Mangkaluku sebagai tipe orogenic lode. P. Flindell menemukan beberapa kemiripan antara endapan emas di Poboya dengan endapan-endapan high-level orogenic gold di Semenanjung Malaysia.

Awalnya, model orogenik hanya diterapkan pada endapan-endapan tipe urat sin-tektonik yang terbentuk di level kerak bumi bagian tengah (mid crustal levels), pada tatanan kompresional atau transpresional yang berhubungan dengan proses-proses akresi/subduksi atau kolisi (cf. Robert et al., 2007). Tetapi penerapan istilah ini kemudian meluas dengan cepat hingga mencakup juga endapan-endapan yang post-orogenic terhadap proses-proses pembentukan/formasi di level kerak yang lebih dalam. Hal ini menyebabkan terjadinya ambiguitas yang signifikan. Sillitoe and Thompson (1998) telah menekankan bahwa endapan orogenik sering sulit dibedakan dengan endapan intrusion-related yang terbentuk langsung dari eksolusi fluida selama berlangsungnya emplacement granitoid di dalam batuan metamorfik.

Dengan menggunakan klasifikasi yang diperluas penerapannya tersebut, McLean (2010) mengategorikan mineralisasi emas di distrik Palopo sebagai emas orogenik, berdasarkan: (1) mineralisasi ini berkarakter mesotermal, (2) emas berasosiasi dengan fluida tahap akhir yang kaya-sodik dan miskin-sulfur yang memroduksi alterasi albit-pirit-silika-karbonat, dan (3) mineralisasi emas dikontrol oleh struktur dalam bentuk urat-urat kuarsa sheeted dan stockwork yang berlokasi di dalam shear zones dan brittle fractures tahap akhir, yang berhubungan dengan peristiwa tektonik regional. Sebaliknya, Musri et al. (2011) lebih cenderung mengategorikannya sebagai endapan intrusion-related, karena terbentuknya proksimal terhadap intrusi sumber, berdasarkan pada rendahnya rasio Ag/Au.

Tatanan ekstensional diusulkan oleh Marten (1999) untuk endapan di Poboya. Penulis ini menginterpretasikan bahwa kerangka struktural daerah ini berkembang sebagai respon terhadap terjadinya ekstensi di atas sebuah sesar mayor “lepasan” (major detachment fault) yang digerakkan/dipicu oleh pengangkatan yang cepat dari kompleks (core) metamorfik. Alterasi dan mineralisasi dihasilkan dari sebuah sistem hidrotermal yang diinisiasi oleh penyejajaran dari batuan-batuan lempeng bawah yang panas dengan batuan-batuan lempeng atas yang dingin, di sepanjang zona sesar detachment tersebut. Proksimalitas kompleks core metamorfik dengan asosiasi sesar-sesar detachment telah banyak ditemukan di berbagai prospek dan endapan emas di  dunia, seperti di region California Tenggara / Arizona Baratdaya (Spencer and Reynolds, 1986), the eastern Rhodope Massif di Bulgaria (Marchev et al., 2002), dan the Modern Massif di Turki (Yigit, 2009). Sillitoe and Hedenquist (2003), yang melaporkan bahwa sebagian besar urat emas di ketiga prospek/endapan tersebut justru tidak di-host oleh sesar-sesar detachment, mengategorikannya sebagai endapan epitermal sulfidasi-rendah (epithermal low-sulphidation). Sebuah model berbeda juga telah diusulkan oleh Wajdi et al. (2012), yang melaporkan bahwa mineralisasi di Poboya berhubungan dengan suatu peristiwa metamorfisme kontak, tahap retrograde. Peristiwa ini dicirikan oleh pembentukan epidot yang diikuti oleh klorit dan pembentukan urat kuarsa-klorit-pirit yang intens, lalu kalsit dan klorit-smektit yang merupakan tahap akhir. Dengan mengasumsikan bahwa hubungan-hubungan genetik seperti tersebut di atas memang terjadi, dan bahwa interpretasi kami (van Leeuwen and Pieters, 2011, 2012) tentang umur mineralisasi Poboya yaitu Pliosen adalah benar, maka kemungkinan terbesar peristiwa kontak metamorfisme - mineralisasi di Poboya disebabkan oleh magmatisme kalk-alkalin. Dalam konteks ini, menarik untuk dicatat bahwa mineralisasi dengan karakteristik yang mirip dengan mineralisasi di Poboya telah ditemukan berasosiasi dengan granitoids kalk-alkalin di Anggasan, di utara distrik porfiri-Mo Malala (Purnomo, 1998; Newcrest Mining, 2004).

Archibald et al. (1996) dan Cox et al. (1998) mengusulkan sebuah model genetik untuk prospek Awak Mas, yaitu pembentukan mineralisasi disebabkan oleh pengangkatan yang cepat (rapid uplift) yang terjadi tidak lama setelah terjadinya kolisi kontinental pada Miosen, yang menyebabkan terobduksinya Kompleks Ofiolit Lamasi di atas basement dan Kompleks Latimojong. Pengangkatan cepat tersebut menyebabkan terjadinya hydraulic fracturing di zona-zona regangan (strain) D2. Sirkulasi fluida hidrotermal terjadi sebagai respon dari terbentuknya gradien geotermal regional level tinggi yang berasosiasi dengan pengangkatan cepat dari Pegunungan Latimojong. Fluida ini diduga merupakan fluida metamorfik dan/atau meteorik.

Sebagai kesimpulan, sejumlah model telah diusulkan untuk endapan-endapan emas di Sulawesi Barat Bagian Tengah – yang di wilayah Sulawesi Selatan meliputi Awak Mas dan Palopo –, yang meliputi orogenik, berhubungan secara langsung atau tak langsung dengan aktifitas batuan beku (magmatik), pengangkatan cepat yang berasosiasi dengan gradien geotermal level tinggi, dan pengendapan emas akibat tektonik (sesar detachment). Endapan-endapan emas di Sulawesi Barat Bagian Tengah memiliki sejumlah fitur yang umum dijumpai pada endapan emas tipe orogenik. Selain yang telah diuraikan oleh McLean (2010), fitur-fitur ini juga meliputi kecenderungan emas berkadar tinggi untuk berasosiasi dengan batuan karbonat, seperti terjadi di Awak Mas, dan salinitas yang < 12% seperti yang terjadi di Mangkaluku, serta asosiasi spasialnya dengan batuan-batuan metamorfik berfasies sekis hijau (cf. Godlfarb et al., 2005). Keberatan utama kami (van Leeuwen and Pieters, 2011, 2012) terhadap skenario tipe orogenik untuk endapan-endapan emas di Sulawesi Barat Bagian Tengah ini, adalah bahwa endapan-endapan tersebut terbentuk lebih dari 50 juta tahun setelah peristiwa tektonik yang memetamorfosiskan (sebagian) host rocks-nya, sedangkan endapan emas tipe orogenik umumnya berkembang/terbentuk pada tahap-tahap paling akhir dari deformasi regional yang masih sedang berlangsung pada host metamorphic terranes-nya (Goldfarb et al., 2005).

Model-model lain yang umum diusulkan adalah bahwa endapan-endapan emas ini berhubungan/terkait dengan berbagai aspek dari peristiwa tektonik Pliosen yang terjadi di Sulawesi Bagian Barat, yang meliputi magmatisme besar-besaran, pengangkatan cepat, dan aliran panas level tinggi. Fakta bahwa di beberapa tempat, seperti di distrik Palopo dan Anggasan, mineralisasi emas di-host oleh granitoids kalk-alkalin berumur muda, tidak merupakan bukti adanya hubungan langsung. Jika alterasi/mineralisasi tipe porfiri yang dijumpai di distrik Palopo terbentuk sebagian dari peristiwa magmatik/hidrotermal yang sama yang membentuk mineralisasi emas tahap akhir, maka sangat mendukung hubungan ini.

Berdasarkan observasi-observasi tersebut di atas, kami (van Leeuwen and Pieters, 2011, 2012) mengategorikan endapan-endapan di Sulawesi Barat Bagian Tengah sebagai endapan emas tipe intrusion-related, dalam tinjauan yang lebih luas, tanpa mengimplikasikan satupun model genetik tertentu. Tanpa memperhatikan/mempertimbangkan faktor genetiknya, endapan-endapan emas ini tampaknya merupakan tipe endapan yang paling menarik di Sulawesi Bagian Barat dari segi eksplorasi.

5. Urat Logam Dasar Tipe Intrusion-Related

Contoh endapan urat logam dasar di Sulawesi Selatan yang tidak berlokasi di sekitar sistem Cu-porfiri yang telah diketahui, adalah di Baturappe (Gowa). Di Baturappe, yang telah diketahui sejak akhir tahun 1960-an (Supardi, 1970), lebih dari 20 urat kuarsa yang di-host oleh basal berumur akhir Miosen Tengah dan diintrusi oleh stock dan sejumlah dike, terbentuk di tiga zona: Bincanai, Baturappe, dan Bangkowa. Mineralisasi urat ini telah dilaporkan oleh Nur et al. (2010). Urat-urat individual umumnya tipis dan terdiri atas kuarsa, siderit, dan sulfida, yang memperlihatkan tekstur multiphase crustiform banding. Mineralisasi di Bincanai dan Bangkowa mengandung kumpulan mineral yang berkarakter sulfidasi-menengah (pirit, kalkopirit dan tetrahedrit±tenantit, galena, sfalerit, dan polibasit), sedangkan mineralisasi di Baturappe secara setempat juga mengandung enargit dan kovelit yang mengindikasikan kumpulan sulfidasi-tinggi. Temperatur pemerangkapan inklusi fluida untuk ketiga sistem urat tersebut, berturut-turut adalah 230oC, 280oC, dan 260oC. Sedangkan salinitas rata-ratanya adalah 2,2 wt.% NaCl equivalent.

6. Bijih Besi

Sejumlah endapan skarn kaya-besi telah ditemukan di Sulawesi Bagian Barat, termasuk di Salo Talimbangan, di bagian tengah region tersebut, yang kaya akan besi (60%) dan mengandung sejumlah tembaga, tetapi sangat irregular dan berukuran kecil (van Bemmelen, 1949). Tubuh-tubuh kecil endapan magnetit ditemukan di daerah sekitar Tandjung di bagian selatan Sulawesi Bagian Barat, yang berasosiasi dengan alterasi garnet, piroksin, dan epidot (Widi et al., 2007). Endapan magnetit ini, yang secara setempat memperlihatkan staining malakit, terbentuk sebagai mineralisasi masif dan diseminasi. Endapan skarn ini terbentuk di dalam blok tektonik kecil batuan metamorfik Pra-Tersier (Jaya and Nishikawa, 2011), yang diintrusi oleh Kompleks Intrusi Biru. Kompleks Intrusi Biru ini telah di-dating K-Ar, dan diketahui berumur Eosen Tengah hingga Miosen Akhir (van Leeuwen, 1981; Elburg et al., 2002). Widi et al. (2007) melaporkan kadar Fe yang bervariasi, mulai dari 59% hingga 67%.

Tipe endapan besi yang lain terbentuk di daerah Biru, yang berlokasi 5 km sebelah timurlaut Tandjung. Endapan ini mengandung batu-besi manganiferous sekunder (secondary manganiferous ironstone), yang terbentuk setelah terendapkannya magnetit dan sulfida hidrotermal. Prospek ini telah diinvestigasi di pertengahan tahun 1970-an (termasuk pemboran terbatas) oleh Rio Tinto, dengan mineralisasi logam dasar di kedalaman sebagai target. Baru-baru ini sebuah perusahaan domestik mulai melakukan eksplorasi bijih besi di prospek ini.

Uraian berikut ini terutama didasarkan pada laporan tak-terpubikasi oleh van Leeuwen (1976) dengan informasi tambahan yang diperoleh dari A. Sumantri (komunikasi personal, 2011), dan makalah yang ditulis oleh Widi et al. (2007).

Sejumlah tubuh batu-besi manganiferous tersebar pada daerah seluas ± 5 km2 dan setempat mengandung mineral-mineral Pb dan Ag sekunder dalam jumlah yang signifikan. Daerah ini dilapis-bawahi oleh batuan volkanik Eosen dan batugamping Eosen hingga Miosen Tengah (Formasi Tonasa), yang telah diintrusi oleh retas-retas andesitik dan sebagian ditutupi oleh batuan volkanik Neogen. Tubuh-tubuh batu-besi manganiferous tersebut terkonsentrasi di sepanjang tiga zona sesar yang berarah timur hingga timurlaut. Tubuh-tubuh individual bervariasi panjangnya, dari 10 hingga 200 m, dan secara total panjangnya sekitar 4 km, dengan lebar 2-50 m. Singkapan-singkapan yang lebar, yang ditindih secara tak-selaras oleh batuan-batuan volkanik dan volkaniklastik berumur Miosen Akhir dan lebih muda, ukurannya menurun/mengecil dengan cepat dengan bertambahnya kedalaman. Di bagian selatan daerah ini, endapan batu-besi membentuk massa-massa besar yang berserakan. Kedalamannya bergantung pada host rock-nya: sekitar 36 m pada batuan volkanik dan > 80 m pada batugamping. batu-besi manganiferous ini terbentuk di atas suatu seri urat yang diskontinyu dan berkemiringan terjal, pada daerah kontak antara retas-retas andesit Miosen Tengah, dan di sepanjang zona-zona fracture pada batuan volkanik Paleogen dan batugamping. Urat-urat ini umumnya memiliki tebal < 5 m, dan terdiri atas diseminasi, gelembung kecil (blebs), dan veinlets galena-mengandung perak, pirit, arsenopirit, magnetit, serta sedikit kalkopirit dan pirrhotit. Galena juga terbentuk sebagai lensa-lensa dan urat-urat pendek. Mineral gangue yang dominan adalah kuarsa dan karbonat. Di samping itu, tubuh-tubuh magnetit dan hematit-silika (primer) yang diameternya mencapai 10 x 15 m2 juga terbentuk pada batugamping, kemungkinan sebagai cavity fillings. Berdasarkan hubungan-hubungan geologinya, umur mineralisasi ini adalah Miosen Tengah.

Berdasarkan kelimpahannya, batu-besi ini terdiri atas goetit, mangan oksida (terutama pirolusit dan koronadit), kuarsa sekunder, hematit, magnetit, serusit, dan tembaga- serta timbal-arsenat. Kisaran kadarnya adalah: besi 30-54%, mangan   0,2-12%, dan silika 2-24%.

Studi petrografi menunjukkan sejarah oksidasi dan reduksi yang kompleks, dengan sejumlah magnetit ter-replaced dan dikelilingi oleh hematit, diikuti oleh fasa di mana sejumlah hematit terubah kembali menjadi magnetit sebelum batuannya mengalami oksidasi permukaan yang lebih lanjut. Berdasarkan hal ini, sejarah kompleksnya dapat diurut sebagai berikut: pelapukan, lalu penimbunan, lalu pelapukan kembali (Gambar 6).

Kehadiran kerakal-kerakal (pebles) batu-besi di dalam batuan volkaniklastik Miosen Akhir yang menindih tak-selaras sekuens volkanik-batugamping mengindikasikan bahwa pelapukan awal dan pembentukan batu-besi terjadi sebelum pengendapan batuan volkaniklastik tersebut (tahap 1). Massa-massa batu-besi yang besar dan berserakan di bagian selatan, kemungkinan terbentuk langsung di permukaan atau lebih memungkinkan lagi terbentuk setelah pengendapan batuan volkanik Miosen Akhir dimulai (tahap 2). Seperti telah ditunjukkan oleh Blanchard (1968), ketidak-selarasan pada daerah dekat permukaan bumi yang datar merupakan zona/tatanan yang baik bagi terbentuknya endapan batu-besi yang berbentuk cendawan (“mushrooming” ironstone deposits). Zona di sepanjang kontak ketidak-selarasan dan perbedaan komposisi kimia dari unit-unit batuan di kedua sisi ketidak-selarasan tersebut, siap memfasilitasi terjadinya sirkulasi. Selama terus berlangsungnya penimbunan, terjadi perubahan kondisi, dari oksidasi menjadi reduksi. Pengangkatan dan erosi yang terjadi kemudian menyebabkan hilangnya atau terpindahkannya (removed) sebagian besar batuan volkanik dan sebagian batu-besi yang ada di bagian atas, yang kemudian mengalami oksidasi yang terbarukan lagi (renewed oxidation, tahap 3) (Gambar 6).

7. Endapan Nikel Laterit

Total luas singkapan batuan ofiolit di Sulawesi adalah salah satu yang terbesar di dunia. Kondisi ini didukung oleh iklim, topografi, dan kontrol struktur yang menyebabkan terbentuknya endapan-endapan nikel laterit besar dalam ukuran yang bervariasi, dari beberapa juta ton hingga > 200 Mt (Mt = juta ton). Salah satu yang terbesar adalah di Soroako, di mana total zona saprolitnya yang berkadar Ni 1,74% mencapai 26 juta DWT dan yang berkadar Ni 1,88% mencapai 55 juta DWT. Informasi yang diuraikan berikut ini didapatkan dari makalah-makalah oleh: Golightly (1979, 1981), Harju (1979), Melkybudiantoro et al. (2010), Rafianto and Tutuko (2010), Rafianto (2011), dan komunikasi tertulis dengan M. Hartley (2011), Suratman (2010), dan G. Tutuko (2011).

Singkapan batuan ultramafik, batuan induk utama bagi pembentukan nikel laterit di Soroako, terbentuk sebagai massa-massa iregular, yang di daerah Soroako dan sekitarnya sebarannya mencapai ribuan km2, meng-cover wilayah-wilayah danau (Danau Matano, Danau Towuti, Danau Mahalona dan sekitarnya).

Pembentukan laterit dikontrol oleh enam faktor utama, yaitu: (1) kondisi batuan induk ultramafik, (2) tingkat serpentinisasi, (3) kondisi iklim (hujan, temperatur), (4) tingkat faulting, fracturing, shearing, dan jointing pada bedrock, (5) geomorfologi, dan (6) tingkat erosi. Bentuk-bentuk permukaan (landforms) yang baik (yang merupakan petunjuk/guide penting untuk fasa awal eksplorasi) adalah: plateaus, terraces, rolling hills, gentle hill flanks, dan ridge spurs.

Terrain ultramafik di daerah Soroako dan sekitarnya dalam sejarahnya relatif hanya sedikit mengalami pengangkatan. Beberapa lokasi yang telah mengalami sesar naik dan pelengkungan memiliki relief lokal yang lebih dari 600 m dan aktif tererosi. Daerah lainnya, terutama daerah sekitar danau, disusun oleh plato-plato yang luas dan ditutupi oleh endapan laterit yang ekstensif, yang sebagian ditudungi oleh ferricrete (oksida besi, tudung besi) dan sekelilingnya terpotong oleh saprolit mengandung nikel yang berkembang dengan baik. Pergerakan di sepanjang sesar strike-slip Matano yang bersifat mengiri menyebabkan tertahan dan tertutupnya aliran-aliran sungai di bagian utara di sepanjang lembah Tamalako, sehingga membentuk danau-danau tersebut di atas. Proses ini pada akhirnya menyebabkan naiknya level dasar, sehingga menghambat proses erosi dan membantu mempreservasi endapan laterit di distrik ini.

Tebal profil pelapukan umumnya bervariasi dari 5 hingga 30 m. Di Soroako, endapan laterit membentuk sisa-sisa erosi permukaan yang ekstensif pada level-level topografi yang berbeda, di mana zona laterit yang paling tebal umumnya terbentuk pada level-level yang rendah. Level ini meng-host banyak zona depresi yang teraliri secara internal dan berawa, yang dapat terisi oleh limonit tertransportasi, dan secara setempat menutupi pisoliticduricrust yang tersemen oleh Cr, yang tertimbun di bagian bawah.

Endapan laterit Sulawesi terbagi atas dua kategori: (1) endapan yang berkembang di atas bedrock tak-terserpentinisasi, terutama harzburgit (contohnya Soroako Barat / West Block), dan (2) endapan yang berkembang di atas bedrock yang mengandung 20-90% olivin terserpentinisasi, terutama lerzolit (contohnya Soroako Timur / East Block). Pada tulisan ini, masing-masing dinamakan tipe I dan tipe II. Batuan ultramafik secara original mengandung olivin forsteritik dengan proporsi yang besar, yang meng-host Ni dengan kadar 0,2-0,4% berat. Profil laterit di kedua tipe endapan tersebut disusun oleh zona limonit di bagian atas dan zona saprolit di bagian bawah.

Zona limonit merupakan layer tertua di profil laterit tersebut. Hal ini sama pada kedua jenis endapan tersebut di atas, termasuk seringnya terdapat tudung besi diskontinyu yang < 1 m di bagian atas. Perbedaan utama keduanya adalah umumnya dijumpai stringer kuarsa di tipe I, dan limonit di tipe ini cenderung berwarna kuning-jingga, jika dibandingkan dengan tipe II yang limonitnya umumnya coklat-gelap dan coklat-kuning. Kandungan Fe rata-rata pada zona limonit adalah 45-46,5%. Nilai ini paling tinggi di bagian atas zona limonit, dan menurun secara gradual ke bagian bawah. Penurunan kadar Fe yang ekstrim terjadi pada zona batas antara limonit dan saprolit. Berhubungan dengan tingkat kelarutannya, SiO2 dan MgO terbentuk hanya dalam jumlah kecil (masing-masing < 10 % dan 3%). Kadar Ni rata-rata pada material limonit berkisar 0,9-1,2%, dengan kadar tertinggi (1,3-1,5% Ni) terbentuk di bagian dasar, yang tebalnya umumnya < 5 m. Pada peridotit tak-terserpentinisasi (tipe I), zona limonit terpisah dari zona saprolit oleh sebuah lapisan tipis limonit dengan kadar Ni sekitar 1,6%.

Zona saprolit memperlihatkan variabilitas yang lebih tinggi pada kedua tipe protolit tersebut. Saprolit di tipe I mengandung bagian inti berupa harzburgit tak-terlapukkan dengan bagian tepi berupa saprolit berwarna kuning hingga jingga, dan fracture yang terisi oleh garnerit, kuarsa dan MnO. Bijih ini dapat dengan mudah dan murah di-upgrade dengan cara di-screening dan dibuang material batuan fresh-nya. Saprolit tipe II dapat dibagi menjadi “saprolit keras atau belum matang”, yang dapat mirip kenampakannya dengan bedrock tetapi memiliki karakteristik geokimia yang berbeda, termasuk tingginya kadar Ni-nya, dan “saprolit lunak atau matang” yang disusun oleh material yang lunak dan rapuh, dan kadang sulit dibedakan secara visual dengan zona limonit di bagian atasnya. Saprolit lunak ini sering terdapat di bagian atas saprolit keras, tetapi dapat juga sebaliknya. Umumnya kadar Ni saprolit batuan (keras) lebih kecil daripada saprolit lunak. Zona saprolit pada endapan nikel laterit di Sulawesi umumnya memiliki ketebalan 5-10 m dengan kadar rata-rata 1,7-2,3%.

8. Endapan Besi Laterit

Sejumlah endapan laterit terdapat di region Sulawesi Bagian Timur, yang memiliki kadar Ni yang rendah (< 1%), dan dapat diklasifikasikan sebagai laterit besi. Program-program eksplorasi yang dilakukan oleh Pemerintah Hindia Belanda antara tahun 1916 hingga 1921 menghasilkan ditemukannya sekitar 10 endapan besi laterit, dan yang terbesar berlokasi di tebing bagian kanan Sungai Larona, dekat Danau Towuti. Endapan besi laterit ini telah diinvestigasi dengan detail dan menghasilkan cadangan terukur sebesar 370 juta, dengan kandungan dalam udara kering sebesar 49% Fe. Studi-studi metalurgi yang ekstensif telah dilakukan dari tahun 1918 hingga 1926, tetapi kurangnya batubara kokas di Indonesia, yang cocok untuk proses pengolahannya (untuk blast-furnace), merupakan kendala utama. Teknologi pengolahan yang baru, yang kemudian ditemukan dan diterapkan di Jerman dan Belanda, yang tidak membutuhkan penggunaan batubara kokas, tidak pernah diuji-cobakan di Sulawesi, karena pecahnya Perang Dunia Kedua.

Endapan besi laterit di Larona telah dilaporkan oleh Dieckman and Julius (1925). Endapan ini terbentuk pada suatu depresi tektonik di dalam terrain peridotit, yang sebelumnya (pada awalnya) tertutup oleh air. Pada saat itu endapan laterit terbentuk, dan menutupi areal sekitar 25 km2 dengan ketebalan yang bervariasi dari beberapa meter hingga 20 m.

9. Cebakan Kromit

Cebakan kromit terbentuk di sejumlah lokasi sebagai lensa-lensa kecil di dalam peridotit. Cebakan terbesar yang sudah dilaporkan ditemukan di daerah pantai Lataoe, sebesar 3.000 ton pada kadar 50% Cr2O3 (PSDG, 2010).

10. Emas Plaser

Mineralisasi emas aluvial ditemukan di daerah Aer Lagego dan Leboni (Dieckman and Julius, 1925). Di Aer Lagego, yang berlokasi di utara Malili, float sedimen terutama disusun oleh batuan metamorfik, kuarsa yang jernih hingga berwarna susu, dan sedikit granit. Kadar emas aluvial ini mencapai 400 mg/cu m. Daerah Leboni berlokasi dekat dengan perbatasan Sulawesi Barat, dari mana emas kemungkinan berasal. Emas aluvial teramati di lembah S. Tedeboe yang lebarnya 2 km, dengan panjang sebaran emas aluvial mencapai 10 km.

11. Diskusi

Distribusi prospek dan endapan mineral di Sulawesi dari segi ruang relatif jelas, tetapi dari segi waktu masih problematik karena masih sedikit yang telah di-dating dengan akurat. Sulawesi Bagian Barat (termasuk sebagian wilayah Provinsi Sulawesi Selatan) berbeda dengan Sulawesi Bagian Utara, baik dari segi tipe maupun jumlah endapan yang telah diketahui. Fitur yang sangat jelas dari segi metalogeniknya adalah kurangnya mineralisasi Au-Ag epitermal sulfidasi- rendah dan tinggi di kawasan Sulawesi Bagian Barat. Perbedaan lainnya antara lain adalah hadirnya endapan-endapan emas yang genesisnya belum diketahui dengan pasti, yang dalam tulisan ini secara tentatif diklasifikasikan sebagai endapan emas tipe intrusion-related (Awak Mas dan Palopo). Hal lain yang juga jelas, adalah endapan-endapan emas intrusion-related tersebut terbentuk di sekitar sistem Cu±Au porfiri kecil (Sasak) dan intrusi-intrusi lainnya. Berbeda (kontras) dengan emas tipe intrusion-related, endapan Cu±Au porfiri ini mengandung logam dasar dalam jumlah yang signifikan dan umumnya kaya akan sulfida.

Kurang berkembangnya mineralisasi yang berhubungan dengan busur volkanik di kawasan Sulawesi Bagian Barat ini menjadi teka-teki yang agak membingungkan. Selama kurun waktu Neogen, di region ini terjadi magmatisme sosonitik hingga ultrapotasik (HK) yang meluas. Magmatisme tipe ini diketahui telah menghasilkan endapan-endapan tembaga dan emas porfiri yang besar (e.g., Muller and Groves, 1993; Sillitoe, 1997). Rangkaian magmatisme alkalin potasik umumnya disepakati terbentuk akibat peleburan mantel bawah busur yang telah mengalami metasomatisme yang ekstensif oleh fluida-fluida dari peristiwa subduksi yang sebelumnya terjadi, yang membentuk magma teroksidasi kuat yang kaya fluida dan sulfida-sulfida mantel yang terdestabilisasi, sehingga melepas unsur-unsur Cu dan Au-nya (McInnes and Cameron, 1994).

Muller and Groves (1993) melaporkan empat jenis tatanan tektonik yang berbeda, di mana batuan beku potasik terbentuk bersama-sama dengan asosiasi mineralisasinya. Keempatnya adalah: (1) busur volkanik akhir (contoh: endapan emas Ladolam di PNG dan tambang emas Emperor di Fiji); (2) busur kontinental (distrik emas Cripple Creek di USA dan provinsi Cu porfiri Andes di Cili); (3) busur pasca-kolisi/pasca-subduksi (endapan emas Porgera dan endapan Cu-Au porfiri Grasberg dan OK Tedi di Papua); (4) tatanan tektonik within-plate (sampai saat ini diketahui tidak memiliki asosiasi genetik langsung dengan mineralisasi emas dan logam dasar yang ekonomis).

Sebagaimana telah dibahas sebelumnya, tatanan tektonik Neogen Sulawesi Bagian Barat selama ini menjadi topik yang dipertentangkan, beberapa pihak menganggapnya sebagai tatanan sin- hingga pasca-kolisi yang berhubungan dengan tertumbuk/datangnya mikrokontinen Sula atau fragmen kontinental lain di Sulawesi (e.g., Kavalieris et al., 1992; Bergman et al., 1996; Polvé et al., 1997), sedangkan pihak lainnya berpendapan bahwa tatanan ini lebih berkarakter ekstensional dan lebih berhubungan genetik dengan tatanan within-plate (e.g., Yuwono et al., 1988; Hall, 2009; van Leeuwen et al., 2010). Tetapi, tatanan ini sangat jelas berbeda dengan tatanan within-plate pada klasifikasi Muller and Groves (1993) (yang termasuk Rift Afrika) di mana batuan volkanik potasiknya, tidak seperti “saudara-saudara”-nya di Sulawesi Bagian Barat, tidak menunjukkan tanda-tanda geokimia subduksi.

Apapun kondisi alaminya tatanan tektonik Neogen di Sulawesi Bagian Barat nampaknya konduktif membentuk mineralisasi emas tipe intrusion-related. Pengangakatan yang cepat, magmatisme kalk-alkalin yang sangat besar, dan aliran panas level-tinggi kemungkinan berperan dalam pembentukannya. Sementara  hubungan genetik langsung antara magmatisme ini dengan mineralisasi emas tersebut belum diketahui dengan pasti, hubungan spasial yang luas terjadi, di mana prospek-prospek emas yang paling signifikan terbentuk di sabuk granitoid kalk-alkalin, seperti pada prospek Mo porfiri di bagian utara Sulawesi Bagian Barat (Malala, Sulawesi Tengah). Hal ini juga merupakan hubungan temporal; keduanya, granitoids dan prospek-prospek emas di Sulawesi Bagian Barat sebelah selatan serta Mo Malala terbentuk pada Miosen Akhir – Pliosen. Penting juga dicatat kehadiran sejumlah keterdapatan emas aluvial di sabuk granitoid antara Palopo dan Palu. Sangat menggelitik untuk dispekulasikan bahwa endapan-endapan emas aluvial tersebut, sebagian, berasal dari mineralisasi yang mirip dengan yang terbentuk di Awak Mas, Mangkaluku dan Poboya.

Dengan mempertimbangkan umur pembentukan dari tipe-tipe mineralisasi lainnya di Sulawesi Bagian Barat, mineralisasi Cu porfiri dan asosiasi skarn serta urat emas-logam dasar di wilayah ini nampaknya berhubungan dengan magmatisme alkalin potasik, yang terjadi antara 14 hingga 5 juta tahun yang lalu. Endapan batu-besi manganiferous di daerah Biru terbentuk dalam periode waktu yang relatif panjang, yaitu Miosen Tengah hingga Resen, dan mineralisasi tipe-Kuroko di Sangkaropi terbentuk di suatu waktu pada Kala Oligosen.

Perbedaan-perbedaan karakter basement (Garwin, 2000) mungkin merupakan salah satu alasan sehingga Sulawesi Bagian Barat dan Bagian Utara berkembang sebagai provinsi-provinsi metalogenik yang berbeda. Busur Sulawesi Bagian Utara dan Busur Sangihe terbentuk pada kerak samudera. Endapan-endapan Cu dan Au terbentik pada atau di sekitar intrusi-intrusi level-tinggi, yang ter-emplaced dalam sekuens volkanik dan volkaniklastik Neogen. Tipisnya kerak samudera memfasilitasi naiknya intrusi-intrusi penyebab mineralisasi ke level kerak yang relatif tinggi (dangkal). Sebaliknya, Sulawesi Bagian Barat dominan berada di atas kerak kontinen yang tebal dengan sebagian besar endapan dan intrusi-intrusi asosiasinya berada pada formasi-formasi berumur Eosen dan lebih tua. Hal ini menunjukkan bahwa sumber-sumber panas yang bertanggungjawab terhadap sistem paleo-hidrotermalnya umumnya tertekan pada level-level kerak yang dalam.

Distribusi dari sebagian besar endapan mineral yang diketahui di Sulawesi Bagian Timur tampak jelas berhubungan erat dengan lokasi singkapan-singkapan peridotit. Faktor-faktor pengontrol lain dalam kasus endapan laterit Ni-Fe adalah topografi dan tingkat pengangkatan dan erosi. Karena alasan ekonomi, lokasi-lokasi yang relatif dekat dengan pantai lebih aktif dieksplorasi daripada yang jauh ke daratan, di mana ini kemungkinan menjelaskan mengapa sebagian besar endapan Ni yang diketahui (atau paling tidak dilaporkan) ditemukan pada radius kurang dari 10 km dari pantai. Umur endapan-endapan Ni dan Fe laterit belum diketahui dengan pasti. Golightly (1979) mengestimasi bahwa dibutuhkan sekitar 1-5 juta tahun untuk membentuk profil laterit di Soroako. Penulis ini juga mengusulkan bahwa proses laterisasi dimulai lebih dahulu di daerah bagian tenggara Sulawesi Bagian Timur, dan kemudian berlanjut ke utara.


Daftar Pustaka

Archibald, N.J., Power, W.L., Ketelaar, P.B., Utley, D.C., Penizza, N. and Nicholas, S.W., 1996. Geology of the Awak Mas prospect area, South Central Sulawesi, Indonesia. Report prepared for PT. Masmindo Eka Sakti.

Bergman, S.C., Coffield, D.Q., Talbot, J.P. and Garrard, R.A., 1996. Tertiary tectonic and magmatic evolution of western Sulawesi and the Makassar Strait, Indonesia: evidence for a Miocene continent-continent collision. In: Hall, R. and

Blundell, D. (eds.), Tectonic evolution of southeast Asia, Geological Society Special Publication, 106, 391-429.

Blanchard, R., 1968. Interpretation of leached outcrops. Nevada Bureau of Mines, Bulletin, 66, 196p.

Cox, S., Smillie, R., Allibone, A., Setyono, D., Archibald, N., Power, B. and Alexander, K.,, 1998. Controls on mineralization at the Awak Mas gold deposit, Sulawesi, Indonesia. Geological Society of Australia, Abstracts, 49, 96.

Dieckmann, W. and Julius, M.W., 1925. Algene geologie en ertsafzettingen van Zuidoost Celebes. Jaarboek van het Mijnwezen Nederlands Indie, 53, Verhandelingen, p. 11-65.

Elburg, M.A., van Leeuwen, T., Foden, J. and Muharjo, 2002. Origin of geochemical variability by arc-continent collision in the Biru area, southern Sulawesi (Indonesia). Journal of Petrology, 43, 581-606.

Garwin, S.L., 2000. The setting, geometry and timing of intrusion-related hydrothermal systems in the vicinity of the Batu Hijau porphyry copper-gold deposit, Sumbawa, Indonesia. Unpublished PhD Thesis, 320 p.

Geomin, 2010. Dari masa ke masa, 30 tahun mendukung pertumbuhan Antam, 178 p.

Goldfarb, R.J., Baker, T., Dube, B., Groves, D.J., Hart, C.J.R.and Gosselin, P., 2005. Distribution character and genesis of gold deposits in metamorphic terrains. In: Hedenquist, J.W., Thompson, J.F.H., Goldfarb, R.J., Richards, I.P. (eds.),

Economic Geology, 100th Anniversary Volume, p. 407-450.

Golightly, J.P., 1979. Geology of Soroako nickeliferous laterite deposits. In: Evans, D.J.I., Shoemaker, R.S. and Velman, H. (eds.), International Laterite Symposium, New Orleans, Society of Mining Engineer AIME, p. 38-56.

Golightly, J.P., 1981. Nickeliferous laterite deposits. Economic Geology, 75th Anniversary Volume, p. 710-735.

Harju, H.O., 1979. Exploration PT. INCO’s nickel laterite deposits in Sulawesi, Indonesia. In: Evans, D.J.I., Shoemaker, R.S. and Velman, H. (eds.), International Laterite Symposium, New Orleans, Society of Mining Engineer AIME, p. 292-299.

Jaya, A. and Nishikawa, O., 2011. Deformation microstructures of metamorphic rocks in the Biru area, South Sulawesi. Proceedings, JCM Makassar 2011, The 36th HAGI and 40th IAGI Annual Concention and Exhibition, Makassar, Indonesia.

Jones, T.E. and Kristianto, A., 1994. PT. Kalosi Makale COW, South Sulawesi; Termination report and exploration review. Unpublished company report.

Jurkovic, J. and Zalokar, B., 1990. The copper deposit of Batu Marupa in Central Sulawesi, Indonesia. Rudarsko-geolosko-naftni zbornik, 2, 29-33.

Katchan, G., 1994. The Masmindo gold project, South Sulawesi, Indonesia. Paper presented at the Indonesian Mining Association Conference, Jakarta, 1994.

Kavalieris, I., 2001. Comments of the Masabo copper porphyry prospect Central Sulawesi. Report prepared for Rio Tinro Exploration.

Kavalieris, I., van Leeuwen, T.M. and Wilson, M., 1992. Geological setting and styles of mineralization in North Arm Sulawesi. Journal of SE Asian Earth Sciences, 7, 113-129.

Marchev, P., Downes, H., Thirlwall, M.F., Moritz, R., 2002. Small-scale variations of 87Sr/86Sr isotope composion of barite in the Madjarovo low-sulfidation epithermal system, SE Bulgaria: implications for sources of Sr, fluid fluxes and pathways of the ore-forming fluids. Mineralium Deposita, 37, 669-677.

Marten, B.E., 1999. Report on a visit to the Palu Prospect, Central Sulawesi, Indonesia. Unpublished report Rio Tinto Mining and Exploration Ltd.

McInnes, B.I.A. and Cameron, E.M., 1994. Carbonated, alkaline hybridized melts from a sub-arc environment: mantle wedge: samples from the Tabar-Lihir-Tanga-Feni arc, Papua New Guinea. Earth and Planetary Science Letters, 122, 125-141.

McLean, R.N., 2010. Palopo Project, South Sulawesi Province, Indonesia. N1 43-101 Technical report prepared for Reliance Resources Ltd.

Melkybudiantoro, D., Suryaning, H. and Purnomo, S., 2010. Geochemistry characteristics of nickel laterite deposit of Bahodopi area, Central Sulawesi, Indonesia. Proceeding, PIT IAGI Lombok 2010.

Muller, D., 1998. The Sasak porphyry Au-Cu prospect, Sulawesi, Indonesia. Unpublished report, North Ltd.

Muller, D. and Groves, D.I., 1993. Direct and indirect associations between potassic igneous rocks, shoshonites and gold-copper deposits. Ore Geology Reviews, 8, 383-406.

Musri, 2001. Alterasi dan mineralisasi hidrotermal daerah Latuppa, Palopo, Sulawesi Selatan. Unpublished M.Sc. Thesis, ITB, Bandung, Indonesia.

Musri, Suparka, E. and Tambun, B., 2011. Geology model of alteration and hydrothermal mineralization Latuppa area, Palopo, South Sulawesi. Proceedings, JCM Makassar 2011, The 36th HAGI and 40th IAGI Annual Concention and Exhibition, Makassar, Indonesia.

Nur, I., Juyanagi, Y., Idrus, A., Pramumijoyo, S., Harijoko, A. and Imai, A., 2010. Mineralogy and Microthermometry of the epithermal base metal veins at Baturappe area, South Sulawesi, Indonesia. Proceeding, PIT IAGI Lombok 2010, 7 pp.

Parkinson, C.D., Miyazaki, K., Wakita, K., Barber, A.J. and Carswell, D.A., 1998. An overview and tectonic synthesis of the very high pressure and associated rocks of Sulawesi, Java and Kalimantan, Indonesia. The Island Arc, special volume on UHP metamorphism from IGC Special Symposium, Beijing, 1996, 7 (1), 184-200.

Polvé, M., Maury, R.C., Bellon, H., Rangin, C., Priadi, B., Yuwono, S., Joron, J.L. and Soeria-Atmadja, R., 1997. Magmatic evolution of Sulawesi (Indonesia): constraints on the Cenozoic geodynamic history of the Sundaland active margin. Tectonophysics, 272, 69-92.

Purawiardi, 2008. Karakteristik bijih kromit Barru, Sulawesi Selatan. Jurnal Riset Geologi dan Pertambangan, 18 (1).

Purnomo, H., 1998. Geology and exploration of the Anggasan prospect, Central Sulawesi. PT. Citra Palu Minerals unpublished report.

Querubin, C.D. and Walters, S., 2011. Geology and mineralization of Awak Mas: a sedimentary hosted gold deposit, South Sulawesi, Indonesia. Proceedings of MGEI-IAGI Seminar on Sulawesi Mineral Resources, 28-29 November 2011, Manado, Indonesia, p. 211-229.

Rafianto, R., 2011. Developing Indonesian nickel deposits: challenges and opportunities. Proceedings, JCM Makassar 2011, The 36th HAGI and 40th IAGI Annual Concention and Exhibition, Makassar, Indonesia.

Rafianto, R. and Tutuko, G.H., 2010. 40 years PT. Inco exploration: evolution in method and understanding nickel mineralization in Sulawesi. Proceeding, PIT IAGI Lombok 2010.

Robert, F., Brommecker, R., Bourne, B.T., Dobak, P.J., McEwan, C.J., Rowe, R.R. and Zhou, X., 2007. Models and exploration methods for major gold deposit types. In: Milkerti, B. (ed.), Proceedings of Exploration 07, 5th Decennial International Conference on Mineral Exploration, p. 691-711.

RSG Global Pty. Ltd., 2004. Awak Mas Gold Project Technical Report, November 2004.

Sillitoe, R.H., 1997. Characteristics and controls of the largest porphyry copper-gold and epithermal gold deposits in the Circum Pacific region. Australian Journal of Earth Sciences, 44, 373-388.

Sillitoe, R.H. and Thompson, J.F.H., 1998. Intrusion-related gold deposit-types, tectono-magmatic setting and difficulties of distinction from orogenic gold deposits. Resource Geology, 48, 237-250.

Spencer, J.E. and Reynolds, S.J., 1986. Some aspects of the Middle Tertiary tectonics of Arizona and Southeastern California. In: Beatty, B. and Wilkinson, P (eds.), Frontiers in the Geology and ore deposits of Arizona and the Southwest: Tucson, Arizona Geological Society Digest, 16, 102-107.

Swager, C., 1998. Structural controls at the Sasak porphyry Cu-Au mineralization – a review of proposed models. Unpublished report, North Ltd.

Supardi, M., 1970. Explorasi bijih timah hitam di daerah Baturappe. PT. PERTIBA unpublished report.

Taylor, D. and van Leeuwen, T.M., 1980. Porphyry-type deposits in SE Asia. Mining Geology Special Issue, 8, 1980.

van Bemmelen R.W., 1949. The geology of Indonesia. Government Printing Office, The Hague (3 volumes).

van Leeuwen, T.M., 1976. The Biru Project, Final Report. PT. Rio Tinto Indonesia unpublished report.

van Leeuwen, T.M., 1981. The geology of southwest Sulawesi with special reference to the Biru area. In: Barber, A.J. and Wiryosudjono, S. (eds.), The geology and tectonics of eastern Indonesia. Geological Research and Development Centre, Bandung, Special Publication, 2, p. 277-304.

van Leeuwen, T.M., Susanto, E.S., Maryanto, S., Hadiwisastra, S., Sudijono, Muhardjo and Priharjo, 2010. Tectonostratigraphic evolution of Cenozoic marginal basin and continental margin successions in the Bone Mountains, South Sulawesi, Indonesia. Journal of Asian Earth Sciences, 6, 233-254.

van Leeuwen, T.M. and Pieters, P.E., 2011. Mineral deposits of Sulawesi. Proceedings of MGEI-IAGI Seminar on Sulawesi Mineral Resources, 28-29 November 2011, Manado, Indonesia.

van Leeuwen, T.M. and Pieters, P.E., 2012. Mineral deposits of Sulawesi. Geological Agency, Ministry of Energy and Mineral Resources, Bandung, Indonesia, p. 1-130.

Wajdi, F., Santoso, S.T.J.B., Kusumanto, D. and Digdowirogo, S., 2012. Metamorphic hosted low sulphidation epithermal gold system at Poboya, Central Sulawesi: a general descriptive review. Majalah Geologi Indonesia, 27, 131-141.

Widi, B.N., Pardiarto, B. and Mulyana, 2007. Mineralization system of the iron ore deposits in Bontocani District and its adjacent Bone Regency, South Sulawesi Province. Proceeding, Joint HAGI and IAGI Convention Bali 2007, p. 864-870.

Yigit, O., 2009. Mineral deposits of Turkey in relation to Tethyan metallogeny: implications for future mineral exploration. Economic Geology, 104, 19-51.

Yoshida, T., Hasbullah, C. and Ohtagaki, T, 1982. Kuroko-type deposits in Sangkaropi area, Sulawesi, Indonesia. Mining Geology, 31 (5), 369-377.

Yuwono, Y.S., Maury, R.C., Soeria-Atmadja, R. and Bellon, H., 1988. Tertiary and Quaternary geodynamic evolution of South Sulawesi: constraints from the study of volcanic units. Geologi Indonesia, 13 (1), 32-48.

 

INFORMASI SEKRETARIAT

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Prev Next

PERINGATAN DINI

PERINGATAN DINI

“PERINGATAN DINI”( EARLY WARNING )PETA PRAKIRAAN WILAYAHPOTENSI TERJADI GERAKAN TANAH / TANAH LONGSORDI PROVINSI SULAWESI SELATAN Dalam rangka upaya mitigasi gerakan tanah dan membangun kesiapsiagaan pemerintah daerah dan masyarakat untuk menghadapi...

Read more

Tanpa Infrastruktur Jalan, Dewi YL Tutup Tambang

Tanpa Infrastruktur Jalan, Dewi YL Tutup Tambang

Sikap tegas ditunjukkan politikus Hanura di DPR asal Sulsel, Dewi Yasin Limpo terhadap beberapa perusahaan tambang yang belum berkontribusi maksimal bagi daerah. Terutama bagi perusahaan yang belum membuat infrastruktur jalan...

Read more

Ada Seminar PNT Pertambangan di Hotel Kenari

Ada Seminar PNT Pertambangan di Hotel Kenari

Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel), mengadakan seminar Peningkatan Nilai Tambah (PNT) Pertambangan melalui pengelolaan dan pemulihan. Acara ini dilaksanakan di Hotel Kenari Tower, Selasa...

Read more

Pertambangan Dongkrak PDRB Sulsel 2014

Pertambangan Dongkrak PDRB Sulsel 2014

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sektor pertambangan mendongkrak pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sulawesi Selatan (Sulsel) pada 2014. Di mana ekonomi Sulsel tumbuh di angka 7,58%.PDRB  Sulsel atas dasar...

Read more

ESDM Temukan 384 Tambang Liar

ESDM Temukan 384 Tambang Liar

Meningkat 54% MAKASSAR, UPEKS.co.id -- Tambang liar terus bertambah di Provinsi Sulsel. Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sulsel mencatat, sepanjang 2015 lalu tambang liar meningkat 54% atau 122 tambang...

Read more

JURNAL

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Prev Next

PENANGGULANGAN BENCANA GERAKAN TANAH BERBASIS MASYARA…

 PENANGGULANGAN  BENCANA GERAKAN TANAH BERBASIS MASYARAKAT

oleh : Slamet Nuhung Penyelidik Bumi Madya   1. PENDAHULUAN   Gerakan tanah merupakan peristiwa alam yang sering terjadi di berbagai wilayah di Indonesia, biasanya dimusin hujan. Dari sebagian kejadian gerakan tanah...

Read more

MENGENAL POTENSI PANAS BUMI KANANDEDE KECAMATAN LIMBON…

MENGENAL POTENSI PANAS BUMI KANANDEDE  KECAMATAN LIMBONG KAB.LUWU UTARA

OLEHNATANIEL CJ.TAPPI*) I.PENDAHULUAN Kebutuhan pada sektor energi hingga saat ini menjadi salah satu tulang punggung dalam upaya  dapat menopang laju pembangunan yang semakin genjar dilaksanakan baik oleh pemerintah maupun elemen masyarakat lain...

Read more

MINERAL DAN ENERGI DALAM PUSARAN KEMARITIMAN TELUK BONE

MINERAL DAN ENERGI DALAM PUSARAN KEMARITIMAN TELUK BONE

  Oleh M.Djafar (Penyelidik Bumi Dinas ESDM Sul-Sel)   Indonesia sebagai Negara maritim sudah dikenal sejak dahulu; semboyan Jalasveva Jayamahe (di laut kita jaya) merupakan simbol untuk menunjukkan bagaimana kejayaan dan kemakmuran serta kekayaan...

Read more

GEOWISATA TANA TORAJA (UTARA) MENYAMBUT “LOVELY DECEMB…

GEOWISATA TANA TORAJA (UTARA) MENYAMBUT  “LOVELY DECEMBER”

Oleh Nataniel CJ.Tappi *) Sebagai salah satu daerah andalan  Propinsi Sulawesi Selatan di sektor pariwisata ; Kabupaten Tana Toraja dan Toraja Utara memiliki banyak  potensi sumber daya alam yang menarik untuk...

Read more

GEOLOGI LINGKUNGAN

GEOLOGI LINGKUNGAN

OLEH : MUH. JAFAR 1. PENDAHULUAN Geologi Lingkungan merupakan cabang ilmu geologi yang mempelajari interaksi antara alam yang disebut lingkungan geologis (geological environment) dengan aktivitas manusia yang bersifat timbal balik. Geologi Lingkungan...

Read more

 DINAS ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL

Jalan : A. P. Pettarani Telp. (0411) 873045 – 873624 – 874467 Fax (0411) 873524 (Hunting) 875543

MAKASSAR Kode Pos 90222